Ancaman yang Meningkat terhadap Infrastruktur Kritis

Keamanan siber di sektor publik selalu menjadi prioritas utama, dan dalam beberapa tahun terakhir, terjadi peningkatan tajam dalam jumlah serangan siber canggih yang menargetkan infrastruktur kritis.

Menurut U.S. Department of Homeland Security (DHS) dalam 2025 Homeland Threat Assessment (HTA), musuh domestik dan asing hampir dipastikan akan terus mengancam integritas infrastruktur kritis selama tahun depan.

Bagi kontraktor sektor publik yang bertugas melindungi infrastruktur vital ini, penting untuk memahami ancaman siber yang terus berkembang dan bagaimana menerapkan solusi keamanan yang kuat. Salah satu cara yang paling efektif untuk mengamankan lingkungan kritis adalah dengan menggunakan Next-Generation Firewalls (NGFW).

 

Jenis Serangan Terhadap Infrastruktur Kritis yang Paling Umum Beberapa ancaman yang paling umum dihadapi sektor kritis saat ini antara lain:

  1. Serangan Ransomware: Kelompok kriminal menargetkan infrastruktur kritis dengan ransomware yang mengunci sistem penting dan meminta pembayaran untuk pembukaannya. Serangan semacam ini dapat mengganggu layanan, merusak data sensitif, dan menyebabkan kerugian finansial yang signifikan. Kontraktor sektor publik harus siap mencegah serangan ini sebelum dapat memberi dampak.
  2. Kontrol Aplikasi: Banyak serangan siber memanfaatkan kerentanannya dalam aplikasi tertentu untuk mengakses jaringan. Menyalahgunakan konfigurasi yang salah atau melewati daftar putih aplikasi adalah beberapa metode yang digunakan oleh para penjahat siber untuk menghindari kontrol yang dirancang untuk mencegah perangkat lunak yang tidak sah dijalankan.
  3. Serangan Denial-of-Service (DoS) dan Distributed Denial-of-Service (DDoS): Serangan ini membebani jaringan dan sistem dengan trafik yang berlebihan. Ketika infrastruktur kritis menjadi target, serangan DoS atau DDoS yang berhasil dapat melumpuhkan layanan, yang menyebabkan gangguan yang meluas.
  4. Ancaman Persisten Tingkat Lanjut (APT): Peretas yang disponsori negara dan penjahat siber menggunakan APT untuk menyusup ke dalam jaringan. Serangan yang sangat canggih dan terus-menerus ini sering menargetkan sistem pemerintahan dan infrastruktur kritis dengan tujuan mencuri kekayaan intelektual, mengumpulkan data pengawasan, atau merusak keamanan nasional.

 

Bagaimana Forcepoint Melindungi dari Serangan Infrastruktur Kritis

Solusi NGFW Forcepoint menyediakan fitur keamanan canggih yang mengurangi risiko ini, menjadikannya alat yang penting bagi kontraktor sektor publik yang bertugas melindungi infrastruktur kritis.

  1. Kontrol Aplikasi Zero Trust untuk Akses Jaringan Zero Trust: Forcepoint Endpoint Context Agent (ECA) memantau aplikasi yang dapat dieksekusi di endpoint, aktivitas pengguna, dan rincian jaringan yang terkait dengan koneksi yang digunakan oleh aplikasi tersebut. Data ini dikirimkan dengan aman melalui koneksi metadata yang terenkripsi dan terautentikasi ke Forcepoint NGFW, memastikan identifikasi aplikasi dan pengguna yang tepat sambil menerapkan prinsip Zero Trust di tingkat aplikasi. Kemampuan ini mencegah aplikasi atau layanan yang tidak sah untuk dijalankan di jaringan.
  2. Inspeksi dan Deteksi Ancaman Multi-Lapis: Forcepoint menawarkan pendekatan komprehensif terhadap keamanan jaringan. Ini menggabungkan kontrol akses, identifikasi aplikasi, inspeksi mendalam, dan penyaringan file, sehingga organisasi dapat mengoptimalkan baik keamanan maupun kinerja sistem. Inspeksi mendalam menganalisis trafik jaringan secara rinci, memungkinkan deteksi ancaman canggih dan serangan zero-day. Kemampuan penyaringan file memungkinkan administrator untuk memblokir jenis file tertentu, mencegah penyebaran malware dan ancaman lainnya.
  3. Sistem Pencegahan Intrusi (IPS) dan IDS Terintegrasi: Forcepoint NGFW dilengkapi dengan IPS dan IDS terintegrasi, yang secara proaktif mengidentifikasi dan memblokir pola serangan yang dikenal. Ini memberikan perlindungan waktu nyata terhadap berbagai ancaman, termasuk serangan DoS dan DDoS serta jenis eksploitasi lainnya.
  4. Perlindungan dan Deteksi Malware Canggih (AMDP): Layanan AMDP mengintegrasikan dengan Forcepoint NGFW untuk meledakkan dan menganalisis file yang mencurigakan di luar lingkungan jaringan, mencegah penyebaran malware yang dikenal maupun yang tidak dikenal, termasuk serangan zero-day. AMDP melindungi terhadap serangan ransomware yang telah menjadi ancaman signifikan bagi infrastruktur kritis.

 

Praktik Terbaik untuk Kontraktor Sektor Publik

Forcepoint NGFW memberikan lapisan pertahanan yang kuat, namun harus menjadi bagian dari strategi keamanan siber yang lebih luas. Berikut adalah beberapa praktik terbaik untuk kontraktor sektor publik guna meningkatkan keamanan infrastruktur:

  1. Manajemen Patch Secara Rutin: Pastikan semua perangkat lunak dan sistem selalu diperbarui dengan patch terbaru untuk memperbaiki kerentanannya.
  2. Mematuhi Kerangka Keamanan Regulasi: Kontraktor sektor publik harus konsisten mematuhi kerangka keamanan regulasi dan kepatuhan seperti National Institute of Standards and Technology (NIST) Cybersecurity Framework, CISA Zero Trust Maturity Model, dan sertifikasi FIPS – 140-03 yang terbaru untuk memastikan kepatuhan, mengurangi risiko, dan melindungi data sensitif dari akses yang tidak sah dan ancaman siber.
  3. Cadangan Data dan Pemulihan Bencana: Pastikan semua data kritis dicadangkan secara rutin dan ada rencana pemulihan bencana yang siap untuk mengembalikan layanan dengan cepat jika terjadi pelanggaran.

Seiring organisasi sektor publik terus menghadapi lingkungan ancaman yang dinamis dan semakin berbahaya, kebutuhan akan solusi keamanan siber yang kuat menjadi lebih krusial dari sebelumnya. Next-Generation Firewall dari Forcepoint memberikan solusi komprehensif untuk melindungi aset vital. Forcepoint NGFW memastikan bahwa organisasi sektor publik dapat menghadapi tantangan keamanan siber yang berkembang saat ini dan di masa depan.