Acara virtual Forcepoint AWARE Spring 2026 menghadirkan para CISO global, praktisi keamanan, analis industri, dan pelanggan untuk membahas tantangan besar yang mengubah cara organisasi mengamankan data: AI telah secara mendasar mengubah perilaku data, namun alat keamanan tradisional belum mengikuti kecepatan tersebut.
Dari lima sesi yang ada, satu tema menjadi sangat jelas: jarak antara melihat risiko dan menghentikannya bukan lagi sekadar gangguan — itu adalah ancaman eksistensial di era data yang selalu aktif dan didorong oleh AI. Berikut adalah lima insight terpenting yang perlu diketahui setiap profesional keamanan.
1. Melihat Risiko Tidak Sama dengan Menghentikannya
Ryan Windham, CEO Forcepoint, membuka acara dengan menegaskan tantangan yang sering dirasakan oleh banyak pemimpin keamanan:
Visibilitas tanpa tindakan bukanlah perlindungan, dan tindakan tanpa pemahaman juga tidak — bahkan itu berbahaya.
Di dunia di mana data dihasilkan, diubah, dirangkum, dan disebarkan oleh AI ke berbagai aplikasi SaaS dan alur kerja otomatis secara instan, model keamanan lama dengan aturan statis sudah tidak relevan lagi.
Yang menggantikannya adalah sebuah loop berkelanjutan yang mampu mengidentifikasi risiko dan kemudian mengambil tindakan secara seketika — fondasi dari apa yang disebut Self‑Aware Data Security. Ini juga yang dihadirkan oleh platform Forcepoint Data Security Cloud: visibilitas dan kontrol terpadu dalam satu platform.
2. Kenali ARIA: Asisten AI yang Selalu Aktif
Naveen Palavalli (Chief Product Officer) dan Bakshi Kohli (CTO) menunjukkan secara langsung bagaimana Forcepoint Data Security Cloud mampu merespons risiko internal di semua kanal sekaligus.
Naveen menggambarkan apa yang selama ini diinginkan oleh tim keamanan:
Bayangkan punya penasihat tepercaya yang terjaga 24 jam sehari, 7 hari seminggu, yang mengenal lingkunganmu, memantau setiap insiden, dan secara proaktif merekomendasikan langkah selanjutnya tanpa perlu diminta.
Itulah ARIA — Adaptive Risk Intelligence Assistant — asisten AI baru yang tertanam dalam Data Security Cloud. ARIA menganalisis aktivitas dan cakupan kebijakan, mengidentifikasi celah perlindungan, lalu menerjemahkan sinyal risiko menjadi kebijakan yang direkomendasikan dan siap diterapkan dalam hitungan detik, yang ditegakkan melalui mesin DLP unggulan Forcepoint.
Sesi ini juga memperkenalkan agen Data Security Everywhere (DSE) generasi berikutnya, yang menawarkan opsi penerapan fleksibel dan integrasi identitas terpadu. Bersama ARIA, agen ini menjaga perlindungan yang konsisten di endpoint, alur kerja AI, web, SaaS, dan email — semuanya beradaptasi secara real time saat risiko berubah.
3. Fondasi Data Harus Didahulukan
Brian Johnson (Direktur Keamanan TI di Liberty University) dan Ronan Murphy (Chief Data Strategy Officer di Forcepoint) berbicara secara gamblang tentang pentingnya mengamankan data dalam skala besar.
Ronan secara tegas menyatakan:
Kamu hanya satu prompt saja dari potensi pelanggaran.
Tidak seperti kasus di mana seorang karyawan secara tidak sengaja mengirimkan file yang salah, sebuah model besar (LLM) dengan akses tak terbatas bisa mengonsumsi seluruh data dalam hitungan detik — mulai dari CRM, data finansial, PII, hingga kekayaan intelektual.
Pengalaman Brian di Liberty University — dengan lebih dari 100.000 mahasiswa di berbagai zona waktu — menunjukkan bahwa investasi awal dalam visibilitas dan klasifikasi data membuat keamanan menjadi enabler bisnis, bukan penghambat. 🍃
4. Mengatasi Masalah yang Disebabkan Orang
Heidi Shey, analis utama dari Forrester, menyampaikan salah satu analogi paling berkesan:
🚼 Copilot AI itu seperti balita — kalau tidak dibuat aman, mereka akan mengambil apa pun yang mereka temukan di rak.
Copilot dan agen AI tidak punya penilaian sendiri. Mereka hanya menampilkan apa pun yang bisa mereka akses. Tanpa penemuan data, klasifikasi, dan perlindungan yang tepat, copilot justru menjadi liability (beban risiko).
Lebih jauh lagi, hampir sepertiga organisasi belum memiliki kebijakan penggunaan AI yang memadai. Penelitian menunjukkan bahwa setidaknya 10–15 jam pelatihan dan dukungan berkelanjutan diperlukan untuk penggunaan AI yang bermakna — bukan sekadar sesi singkat satu jam.
5. Dari Kebisingan Menjadi Aksi
Eva Klein, Chief Customer Officer Forcepoint, menutup acara dengan pesan yang konsisten dari setiap percakapan pelanggan:
Deteksi tanpa konteks hanyalah kebisingan — tidak ada sinyal — dan visibilitas tanpa penegakan hanyalah melihat masalah tanpa menyelesaikannya.
Banyak pelanggan memiliki ambisi besar, namun kurang percaya diri bahwa bergerak cepat tidak berarti kehilangan kendali atas data. Kepercayaan itu baru muncul dari fondasi yang menghubungkan pemahaman dengan penegakan, dan beradaptasi saat risiko berubah. Contoh aktualnya adalah organisasi seperti Mariner Finance yang mendapat keuntungan signifikan dari menyetel kebijakan di Data Security Cloud.
ARIA diharapkan menjadi alat yang mempercepat peralihan dari reaktif menjadi siap, dari mengejar peringatan menjadi bertindak dengan percaya diri.
Pesan Akhir: Fondasinya Sudah Terbentuk
Pesan utama dari setiap sesi di AWARE Spring 2026 sangat jelas: jarak antara visibilitas dan kontrol itu nyata, terus melebar, dan membutuhkan respons yang bergerak secepat data itu sendiri.
Self‑Aware Data Security adalah cara Forcepoint menutup celah tersebut:
✨ Discovery → Classification → Prioritization → Remediation → Adaptive Enforcement — semuanya bekerja dalam sebuah loop kontinu.
ARIA bekerja sebagai lapisan intelijen yang selalu aktif dalam loop ini, sehingga organisasi
🔹 tahu di mana data mereka berada,
🔹 dapat beradaptasi saat risiko berubah,
🔹 dan melindungi yang paling penting sebelum paparan berubah menjadi dampak nyata.
Infrastruktur IT yang kuat adalah kunci produktivitas perusahaan. Dengan Forcepoint indonesia, merupakan bagian dari PT. iLogo Infralogy Indonesia, yang merupakan mitra terpercaya dalam solusi Infrastruktur IT dan Cybersecurity terbaik di Indonesia.
Hubungi kami sekarang atau kunjungi Forcepoint.ilogoindonesia.id untuk informasi lebih lanjut!
