Forcepoint mengumumkan peningkatan besar pada platform Data Security Cloud berbasis AI mereka. Fitur utama yang diperkenalkan adalah ARIA (Adaptive Risk Intelligence Assistant), asisten AI yang dapat membantu tim keamanan membuat kebijakan keamanan menggunakan bahasa alami dan mempercepat respons insiden pada workflow berbasis AI. Selain itu, Forcepoint juga memperbarui Global Partner Program untuk membantu partner mengimplementasikan dan memperluas solusi keamanan data modern bagi pelanggan mereka. Inovasi ini mendukung pendekatan baru yang disebut Self-Aware Data Security, yaitu sistem keamanan yang mampu: mengenali ancaman secara real-time, menyesuaikan kebijakan keamanan secara otomatis, dan melindungi data di mana pun data tersebut berada. Tantangan Keamanan AI Modern Menurut laporan World Economic Forum, sekitar 66% organisasi percaya bahwa AI akan memberikan dampak terbesar terhadap cybersecurity dalam satu tahun ke depan. Namun, banyak organisasi masih belum memiliki proses formal untuk mengelola risiko AI. Seiring penggunaan AI meningkat, data sensitif kini tersebar di: cloud platform, tools kolaborasi, workflow berbasis AI, endpoint, dan aplikasi SaaS. Hal ini menciptakan kesenjangan antara visibilitas data dan kemampuan kontrol keamanan. Fitur Utama Baru di Data Security Cloud 1. ARIA – Asisten AI untuk Keamanan Data ARIA terintegrasi langsung ke dalam Data Security Cloud dan mampu: mendeteksi celah kebijakan keamanan, membuat rekomendasi policy otomatis, mempercepat deployment policy, membantu investigasi insiden, serta terintegrasi dengan tool seperti ServiceNow dan Slack. ARIA menggunakan teknologi AI Mesh milik Forcepoint untuk menemukan dan mengklasifikasikan miliaran data terstruktur maupun tidak terstruktur. 2. Next-Generation Data Security Everywhere Agent Agent terbaru Forcepoint menghadirkan perlindungan langsung di endpoint tanpa perlu routing traffic melalui proxy tradisional. Fungsinya meliputi: melindungi data di perangkat, mengontrol penggunaan aplikasi AI, memblokir pengiriman data sensitif ke AI tools yang tidak diizinkan, serta melindungi cloud storage pribadi. 3. Dukungan Lebih Luas untuk Cloud dan AI Environment Forcepoint memperluas perlindungan keamanan data untuk: Databricks, Snowflake, Google Workspace, SaaS, hybrid environment, email, web, dan endpoint. Pernyataan CEO Forcepoint CEO Forcepoint, Ryan Windham, mengatakan bahwa AI telah mengubah data menjadi sesuatu yang “hidup” dan terus bergerak di dalam organisasi. Karena itu, perusahaan membutuhkan visibilitas dan kontrol keamanan yang mampu bergerak secepat AI itu sendiri. Program Partner Baru Forcepoint juga menyederhanakan program partner global mereka dengan: struktur tiga level yang lebih sederhana, benefit ekonomi yang lebih jelas, margin deal registration tanpa minimum threshold, serta pelatihan tambahan untuk partner. Kesimpulan Melalui ARIA dan pembaruan Data Security Cloud, Forcepoint ingin membantu organisasi: mengamankan penggunaan AI, mengurangi risiko kebocoran data, menyederhanakan pengelolaan keamanan, dan meningkatkan visibilitas data secara menyeluruh. Infrastruktur IT yang kuat adalah kunci produktivitas perusahaan. Dengan Forcepoint indonesia, merupakan bagian dari PT. iLogo Infralogy Indonesia, yang merupakan mitra terpercaya dalam solusi Infrastruktur IT dan Cybersecurity terbaik di Indonesia. Hubungi kami sekarang atau kunjungi Forcepoint.ilogoindonesia.id untuk informasi lebih lanjut!
Tag: forcepoint
Tata Kelola Keamanan Data: Panduan Praktis
Artikel ini menjelaskan apa itu data security governance (tata kelola keamanan data), mengapa implementasinya semakin sulit di era cloud dan AI, serta bagaimana membangun strategi keamanan data yang efektif dan scalable. Apa Itu Data Security Governance? Tata kelola keamanan data adalah kerangka kerja yang digunakan organisasi untuk mengelola, melindungi, dan mengontrol data sensitif secara konsisten di semua lingkungan tempat data berada atau berpindah. Framework ini mencakup: Penemuan dan klasifikasi data sensitif Pengaturan hak akses data Kebijakan penggunaan dan penyimpanan data Monitoring dan enforcement kebijakan Kepatuhan dan pelaporan audit Tujuannya bukan hanya memiliki tools keamanan, tetapi memastikan kebijakan keamanan mengikuti data ke mana pun data berpindah. Mengapa Banyak Organisasi Kesulitan? Menurut Forcepoint, tantangan utama saat ini adalah: 1. Data tersebar di banyak tempat Data perusahaan kini berada di: Server lokal Cloud storage SaaS Endpoint Collaboration tools Akibatnya, banyak organisasi tidak benar-benar tahu lokasi seluruh data sensitif mereka. 2. AI memperumit governance AI generatif mempercepat perpindahan dan duplikasi data: File dimasukkan ke workflow AI Output AI dapat mengandung data sensitif Audit tradisional tidak lagi cukup cepat 3. Ownership terfragmentasi IT, legal, security, dan business unit sering bekerja sendiri-sendiri sehingga tanggung jawab governance menjadi tidak jelas. Fondasi Governance: Kenali Data Anda Forcepoint menekankan bahwa governance dimulai dari data discovery. Organisasi harus: Menemukan lokasi data sensitif Mengklasifikasikan jenis data Mengidentifikasi siapa yang memiliki akses Teknologi seperti DSPM (Data Security Posture Management) membantu melakukan scanning otomatis pada: File server Cloud storage SaaS Endpoint Selain itu, AI-powered classification membantu mengenali: PII PHI Intellectual property Data regulasi lainnya tanpa bergantung hanya pada keyword sederhana. Access Control Adalah Inti Governance Forcepoint menyoroti prinsip least privilege: User hanya boleh mengakses data yang memang dibutuhkan. Masalah umum yang terjadi: Permission lama tidak dicabut Folder tetap terbuka setelah proyek selesai Cloud apps terlalu permisif Solusinya adalah Data Access Governance yang melakukan: Monitoring permission terus-menerus Deteksi overexposure Audit trail otomatis Remediasi akses berlebihan Kebijakan Harus Mengikuti Data Governance tidak efektif jika kebijakan hanya berlaku di jaringan internal. Forcepoint menjelaskan bahwa enforcement harus tetap aktif saat data: Dikirim email Diupload ke cloud Dipindahkan ke endpoint Diakses dari SaaS Di sinilah DLP (Data Loss Prevention) berperan: Memantau perpindahan data Memblokir transfer berisiko Mengenkripsi data sensitif Menjalankan policy secara konsisten lintas channel Monitoring Real-Time Sangat Penting Model governance lama bersifat reaktif: Audit berkala Investigasi setelah insiden Model modern harus: Monitoring real-time Deteksi perilaku anomali Respon otomatis terhadap pelanggaran Forcepoint menggunakan kombinasi: DSPM → melihat posture data DDR (Data Detection & Response) → memonitor penggunaan data secara real-time 6 Langkah Membangun Strategi Governance Forcepoint merekomendasikan langkah berikut: Membuat baseline risiko data Mengklasifikasikan data Memprioritaskan risiko Memperbaiki permission dan posture Menjalankan enforcement lintas channel Monitoring berkelanjutan dan adaptif Peran AI dalam Governance AI dianggap sebagai: Tantangan baru Sekaligus solusi utama AI dapat: Menimbulkan risiko kebocoran data Tetapi juga membantu discovery dan classification otomatis dalam skala besar Forcepoint menilai governance modern tidak mungkin scalable tanpa AI-driven automation. Compliance Bukan Tujuan Utama Artikel menekankan bahwa: Compliance hanyalah hasil dari governance yang baik. Fokus utama seharusnya: Mengetahui lokasi data sensitif Mengontrol akses Menjalankan kebijakan konsisten Jika itu berjalan baik, compliance akan mengikuti secara otomatis. Kesimpulan Forcepoint menyimpulkan bahwa Data Security Governance bukan lagi sekadar proyek IT, tetapi kemampuan bisnis yang penting. Governance modern membutuhkan: Discovery otomatis AI-powered classification Least privilege access Unified DLP Monitoring real-time Enforcement lintas cloud dan endpoint Tujuannya adalah menciptakan sistem keamanan data yang: Konsisten Adaptif Siap menghadapi era AI dan cloud modern. forcepoint Indonesia merupakan bagian dari PT. iLogo Infralogy Indonesia, yang bertindak sebagai partner resmi forcepoint. Selain itu, kami juga berperan sebagai penyedia layanan (vendor) sekaligus distributor berbagai produk Infrastruktur IT dan Cybersecurity terbaik di Indonesia.
Forcepoint memperkuat keamanan data dengan AI terbaru (2026)
Forcepoint baru saja mengumumkan peningkatan besar pada platform Data Security Cloud mereka yang berbasis AI. Update ini berfokus pada perlindungan data di seluruh lingkungan cloud, endpoint, dan aplikasi AI. Poin utama artikel resmi: Forcepoint meluncurkan ARIA (Adaptive Risk Intelligence Assistant), asisten AI yang bisa membantu membuat kebijakan keamanan menggunakan bahasa alami. ARIA juga bisa mendeteksi risiko dan merekomendasikan kebijakan secara otomatis. Ada peningkatan endpoint intelligence, yang memungkinkan perlindungan data langsung di perangkat tanpa perlu proxy tradisional. Sistem baru ini mendukung keamanan data di lingkungan AI seperti copilots, SaaS, dan cloud modern. Tujuannya adalah konsep “Self-Aware Data Security”, yaitu keamanan yang bisa menyesuaikan diri secara real-time terhadap risiko data. 🤝 Update tambahan (kolaborasi terbaru) Forcepoint juga baru-baru ini bekerja sama dengan F5 untuk memperkuat keamanan AI dari tahap data hingga runtime (saat AI berjalan di sistem produksi). Fokusnya adalah menghubungkan data security + runtime protection Membantu perusahaan melindungi data sensitif yang digunakan oleh sistem AI dan API 📌 Kesimpulan singkat Artikel resmi terbaru Forcepoint menekankan bahwa mereka sedang bergerak ke arah: Keamanan data berbasis AI Perlindungan real-time (bukan statis) Integrasi penuh dengan sistem AI modern forcepoint Indonesia merupakan bagian dari PT. iLogo Infralogy Indonesia, yang bertindak sebagai partner resmi forcepoint. Selain itu, kami juga berperan sebagai penyedia layanan (vendor) sekaligus distributor berbagai produk Infrastruktur IT dan Cybersecurity terbaik di Indonesia.
8 Tren DSPM yang Menerangi Masa Depan Keamanan Data
Data Security Posture Management (DSPM) telah berkembang jauh melampaui sekadar alat pencarian data sensitif. Pada tahun 2026, DSPM menjadi pusat manajemen risiko perusahaan, mitigasi insider threat, dan tata kelola AI. Perkembangan cloud, SaaS, dan AI generatif membuat organisasi harus memikirkan ulang bagaimana data sensitif dibuat, dipindahkan, dan disimpan. Pertanyaannya bukan lagi “apakah DSPM diperlukan?”, tetapi bagaimana memahami evolusinya agar mampu menghadapi risiko data berbasis AI. 8 Tren Utama DSPM Tahun 2026 1. DSPM menjadi lapisan keamanan aktif, bukan sekadar alat laporan Generasi awal DSPM hanya fokus menjawab: “Di mana data sensitif berada?” Kini itu tidak cukup. Perusahaan menginginkan: otomatisasi perbaikan risiko, kontrol berbasis konteks, pengurangan risiko yang terukur. DSPM modern harus bisa langsung terhubung dengan: kebijakan DLP, workflow respons insiden, enforcement keamanan. DSPM sekarang dipandang sebagai bagian dari arsitektur keamanan aktif. 2. AI Generatif mempercepat evolusi DSPM AI generatif menjadi pendorong utama perkembangan DSPM. Data sensitif kini mengalir ke: prompt AI, pipeline training, integrasi tools kolaborasi. DSPM membantu menjawab: dataset sensitif mana yang terhubung ke AI, repository apa yang diakses workflow AI, apakah data sensitif masuk ke platform AI tidak resmi. DSPM menyediakan visibilitas sebelum dan sesudah penggunaan AI. 3. Risiko ditentukan oleh exposure, bukan hanya sensitivitas data Di tahun 2026, label “sensitif” saja tidak cukup. Yang lebih penting: siapa yang bisa mengakses, bagaimana data dibagikan, apakah data terekspos publik. DSPM modern menganalisis: repository yang overexposed, permission berlebihan, akun lama, link sharing eksternal/public. Fokus berpindah dari inventaris data menjadi tata kelola akses data. 4. Perlindungan terpadu untuk data terstruktur dan tidak terstruktur Perusahaan tidak lagi bisa melindungi: database, file sharing, SaaS content secara terpisah. Data sensitif kini bergerak bebas antar: spreadsheet, CRM, platform kolaborasi, cloud storage. Karena itu organisasi mulai menggunakan framework kebijakan terpadu untuk: klasifikasi konsisten, mengurangi blind spot, menyederhanakan governance. 5. Klasifikasi berbasis AI menjadi standar wajib Volume data perusahaan sudah terlalu besar untuk klasifikasi manual. AI kini digunakan untuk: mengenali pola kompleks, memahami konteks data, mendeteksi perilaku mencurigakan. Keuntungan: lebih cepat, lebih akurat, lebih efektif untuk unstructured data. Namun AI harus tetap terintegrasi dengan proses governance yang terukur. 6. Integrasi platform mengurangi tool sprawl Arsitektur keamanan kini mengarah pada konsolidasi. DSPM mulai diintegrasikan dengan: DLP, DDR (Data Detection & Response), insider risk analytics, compliance workflow. Tujuannya: mengurangi banyaknya tool terpisah, meningkatkan efisiensi operasional, membangun platform keamanan data terpadu. 7. Pengurangan risiko yang terukur menjadi fokus manajemen Pimpinan perusahaan kini ingin melihat hasil keamanan yang bisa diukur. DSPM digunakan untuk memantau: penurunan file sensitif yang terekspos publik, pengurangan excessive permissions, pembersihan data usang/tidak penting. DSPM tidak lagi hanya alat compliance, tetapi menjadi metrik manajemen risiko. 8. Program insider risk menjadi berbasis posture Ancaman internal masih menjadi tantangan utama. DSPM membantu: memprioritaskan user berisiko tinggi, mengurangi akses yang tidak diperlukan, menerapkan prinsip least privilege. Dengan menggabungkan posture data dan aktivitas user, perusahaan dapat beralih dari respons reaktif menjadi pencegahan proaktif. Bagaimana Forcepoint Membantu Forcepoint DSPM dalam platform Forcepoint Data Security Cloud menyediakan: discovery & klasifikasi data cloud/SaaS, AI Mesh untuk klasifikasi cepat dan akurat, analisis exposure berbasis konteks, prioritas remediation berbasis risiko, integrasi dengan DLP dan DDR Forcepoint. Tujuannya bukan hanya mengukur risiko, tetapi benar-benar mengurangi exposure data. Kesimpulan Masa depan DSPM ditentukan oleh: integrasi, otomatisasi, analisis risiko berbasis konteks. Organisasi yang memperlakukan DSPM sebagai lapisan keamanan aktif akan lebih siap menghadapi: insider threat, risiko AI, paparan data modern. forcepoint Indonesia merupakan bagian dari PT. iLogo Infralogy Indonesia, yang bertindak sebagai partner resmi forcepoint. Selain itu, kami juga berperan sebagai penyedia layanan (vendor) sekaligus distributor berbagai produk Infrastruktur IT dan Cybersecurity terbaik di Indonesia.
F5 dan Forcepoint Bermitra untuk Mengamankan AI Enterprise dari Pembuatan Data hingga Operasi Runtime
F5 dan Forcepoint mengumumkan kerja sama strategis untuk membantu perusahaan mengamankan penggunaan AI di seluruh siklus hidupnya — mulai dari penemuan dan klasifikasi data hingga perlindungan runtime dan pemantauan berkelanjutan. Seiring semakin banyak organisasi menggunakan AI seperti copilot, asisten virtual, dan workflow otomatis, tantangan keamanan juga meningkat. Banyak perusahaan kesulitan mengetahui: di mana data sensitif berada, bagaimana data mengalir ke sistem AI, dan risiko apa yang muncul ketika AI sudah berjalan di lingkungan produksi. Untuk mengatasi hal tersebut, teknologi: DSPM (Data Security Posture Management) milik Forcepoint, digabungkan dengan AI Red Team dan AI Guardrails milik F5 pada platform ADSP (Application Delivery and Security Platform). Kolaborasi ini memungkinkan perusahaan untuk: menemukan dan mengklasifikasikan data sensitif, memprioritaskan risiko AI, menerapkan kontrol keamanan saat AI berjalan, mendeteksi penyalahgunaan AI, serta memonitor perilaku abnormal secara real-time. Menurut John Maddison dari F5, banyak perusahaan bergerak lebih cepat mengadopsi AI dibanding kemampuan keamanan mereka untuk beradaptasi. Dengan kombinasi teknologi Forcepoint dan F5, organisasi dapat mengurangi celah keamanan operasional dalam penggunaan AI. Sementara itu, Naveen Palavalli dari Forcepoint menyatakan bahwa AI telah mengubah paradigma keamanan data secara fundamental. Kebijakan keamanan statis dianggap tidak lagi cukup untuk menghadapi ancaman AI modern. Dalam implementasinya: Forcepoint berfokus pada visibilitas dan governance data di cloud, SaaS, endpoint, dan lingkungan enterprise. F5 menangani perlindungan runtime AI, API security, monitoring model AI, serta pencegahan prompt abuse dan data exfiltration. Kedua perusahaan menyebut pendekatan ini sebagai perjalanan: “From Data Truth to Runtime Trust” Artinya, AI harus dibangun di atas data yang terpercaya dan tetap diawasi secara berkelanjutan selama beroperasi di produksi. forcepoint Indonesia merupakan bagian dari PT. iLogo Infralogy Indonesia, yang bertindak sebagai partner resmi forcepoint. Selain itu, kami juga berperan sebagai penyedia layanan (vendor) sekaligus distributor berbagai produk Infrastruktur IT dan Cybersecurity terbaik di Indonesia.
Apa itu Data Security Platform
Data Security Platform adalah sistem terpadu yang melindungi data sensitif dari akses tidak sah, kebocoran, dan pelanggaran keamanan di berbagai lingkungan seperti: cloud SaaS on-premise endpoint Platform ini menggabungkan beberapa kemampuan utama: discovery (menemukan data) klasifikasi data analisis risiko (posture) enforcement kebijakan deteksi & respons ⚠️ Kenapa pendekatan keamanan lama sudah tidak cukup Dulu, data dianggap aman jika berada di dalam perimeter jaringan. Sekarang masalahnya: data tersebar di banyak sistem bergerak antar aplikasi cloud dan SaaS digunakan dalam workflow AI Akibatnya: model keamanan tradisional tidak lagi mampu mengikuti pergerakan data modern 📊 Fungsi utama platform keamanan data modern Platform yang baik harus bisa: menemukan data sensitif secara terus-menerus memahami di mana data terekspos mendeteksi risiko seperti sharing berlebihan menerapkan perlindungan secara konsisten membantu kepatuhan (compliance) ☁️ Kenapa platform lebih penting dari tools terpisah Forcepoint menjelaskan bahwa banyak organisasi dulu memakai: DLP (Data Loss Prevention) DSPM (Data Security Posture Management) tools cloud security terpisah Masalahnya: terlalu banyak tools tidak terintegrasi sulit dikelola ➡️ Tren sekarang: semua digabung dalam satu platform keamanan data. 🤖 AI dalam keamanan data AI sekarang dipakai untuk: klasifikasi data otomatis mendeteksi data sensitif lebih akurat mengurangi false positive membantu investigasi risiko 🧠 Kesimpulan artikel Inti dari artikel ini: Perusahaan harus beralih dari tools keamanan yang terpisah menjadi platform keamanan data yang terintegrasi, karena data sekarang bergerak terlalu cepat dan terlalu tersebar. Infrastruktur IT yang kuat adalah kunci produktivitas perusahaan. Dengan Forcepoint indonesia, merupakan bagian dari PT. iLogo Infralogy Indonesia, yang merupakan mitra terpercaya dalam solusi Infrastruktur IT dan Cybersecurity terbaik di Indonesia. Hubungi kami sekarang atau kunjungi Forcepoint.ilogoindonesia.id untuk informasi lebih lanjut!
Kebijakan DLP: Cara Membangun, Menegakkan, dan Menyesuaikan
Kebijakan DLP: Cara Membangun, Menegakkan, dan Menyesuaikan Sebagian besar organisasi tidak memulai dengan tujuan memiliki masalah Data Loss Prevention (DLP). Mereka hanya menjalankan bisnis, tetapi seiring waktu lingkungan data berkembang lebih cepat dibandingkan kontrol keamanannya. Muncul aplikasi cloud baru, pekerja jarak jauh, serta penggunaan alat AI generatif yang cepat menyebar. Akibatnya, data sensitif mulai bergerak melalui berbagai saluran yang tidak pernah dirancang dalam rencana keamanan awal. Kebijakan yang seharusnya mengatur data tersebut sering kali menjadi usang, tidak konsisten, atau bahkan tidak lagi diterapkan. Di sinilah DLP berperan untuk menutup kesenjangan tersebut. Namun, ini bukan hanya soal memasang alat. Ini tentang memahami apa itu DLP dan bagaimana cara kerjanya dalam program keamanan data yang lebih luas. 📌 Apa Itu DLP Compliance? DLP (Data Loss Prevention) adalah kombinasi teknologi dan kebijakan yang bertujuan untuk mencegah data sensitif hilang, disalahgunakan, atau diakses oleh pihak yang tidak berwenang. Solusi DLP: Mengidentifikasi data sensitif Memantau pergerakan data Mengontrol penggunaan data Menerapkan kebijakan keamanan secara otomatis ⚙️ Cara Kerja DLP DLP biasanya bekerja dalam tiga tahap: Discovery & Classification Sistem memindai endpoint, server, dan cloud untuk menemukan data sensitif dan memberi label. Monitoring & Detection Sistem memantau aktivitas data secara real-time untuk mendeteksi perilaku berisiko. Enforcement Sistem mengambil tindakan seperti: memblokir akses mengenkripsi data memberi peringatan kepada pengguna atau mengizinkan dengan catatan tertentu 🧠 Mengapa Kebijakan DLP Sering Gagal Banyak organisasi mengalami kegagalan karena: Terlalu banyak aturan yang dibuat tanpa prioritas Tidak memahami data paling penting (“crown jewels”) Tingginya false positive (alert tidak relevan) Kebijakan tidak pernah diperbarui Akibatnya, sistem menjadi tidak efektif dan sulit dikelola. 🔧 Cara Membangun Kebijakan DLP yang Efektif 1. Fokus pada data paling penting Tidak semua data harus dilindungi dengan tingkat yang sama. Prioritaskan data yang paling bernilai dan berisiko tinggi. 2. Gunakan kebijakan berbasis risiko Kebijakan harus mempertimbangkan konteks seperti: perilaku pengguna peran pengguna situasi aktivitas 3. Terapkan bertahap Mulai dari mode monitoring → peringatan → baru kemudian penegakan (blocking). 4. Integrasi dengan sistem lain Hubungkan DLP dengan IAM dan SIEM untuk mempercepat respons insiden. 5. Edukasi pengguna Berikan edukasi real-time saat pengguna melanggar kebijakan. 6. Ukur dan perbaiki terus-menerus Pantau: jumlah insiden false positive efektivitas kebijakan 🤖 Tantangan Modern: AI & Cloud Dengan munculnya AI generatif dan penggunaan cloud yang luas: data lebih mudah berpindah kontrol perimeter tradisional tidak lagi cukup kebijakan harus terus menyesuaikan perubahan teknologi ✅ Kesimpulan DLP bukan hanya alat, tetapi program berkelanjutan yang harus: dibangun dengan strategi yang jelas ditegakkan secara konsisten dan terus disesuaikan dengan perubahan lingkungan data Infrastruktur IT yang kuat adalah kunci produktivitas perusahaan. Dengan Forcepoint indonesia, merupakan bagian dari PT. iLogo Infralogy Indonesia, yang merupakan mitra terpercaya dalam solusi Infrastruktur IT dan Cybersecurity terbaik di Indonesia. Hubungi kami sekarang atau kunjungi Forcepoint.ilogoindonesia.id untuk informasi lebih lanjut!
Respons Insiden DLP: Dari Alert hingga Kasus Ditutup
Respons Insiden DLP: Dari Alert hingga Kasus Ditutup Dalam keamanan data modern, tim keamanan sering dibanjiri oleh banyak sekali alert dari sistem Data Loss Prevention (DLP). Tantangannya bukan hanya mendeteksi ancaman, tetapi juga mengelola alert tersebut hingga menjadi insiden yang benar-benar dipahami dan diselesaikan. Masalah utama: terlalu banyak alert, terlalu sedikit konteks Sistem DLP tradisional sering menghasilkan terlalu banyak notifikasi yang tidak relevan (false positive). Akibatnya, tim keamanan harus melakukan investigasi manual yang memakan waktu dan tidak efisien. Tanpa konteks yang jelas, sulit membedakan mana yang benar-benar ancaman dan mana yang hanya aktivitas normal. Dampaknya Alert menumpuk tanpa prioritas jelas Investigasi menjadi lambat dan terfragmentasi Tim keamanan kesulitan menentukan urgensi insiden Risiko insiden nyata bisa terlewat Pendekatan Forcepoint: mengubah alert menjadi insight Forcepoint DLP menggabungkan semua insiden dari endpoint, email, cloud, dan jaringan ke dalam satu dashboard terpusat. Ini membuat proses investigasi menjadi lebih sederhana dan terstruktur. Dengan teknologi seperti: Fingerprinting OCR (Optical Character Recognition) NLP (Natural Language Processing) Sistem dapat mengenali data sensitif bahkan jika sudah dimodifikasi atau disamarkan. Konteks adalah kunci Forcepoint menambahkan analisis perilaku pengguna (Risk-Adaptive Protection), sehingga sistem tidak hanya melihat “apa yang terjadi”, tetapi juga “siapa yang melakukannya” dan “apakah itu berisiko”. Ini membantu tim keamanan: Mengurangi alert yang tidak penting Fokus pada aktivitas berisiko tinggi Mempercepat pengambilan keputusan Investigasi insiden menjadi lebih mudah Setiap insiden DLP memiliki jejak audit lengkap, termasuk: Siapa yang mengakses data Apa yang dilakukan Kapan dan bagaimana aktivitas terjadi Semua ini membantu proses investigasi menjadi lebih transparan dan dapat ditelusuri. Respon real-time Forcepoint memungkinkan tindakan langsung seperti: Blokir akses Enkripsi data Memberikan peringatan (coach) Notifikasi ke pengguna Hal ini membuat respons insiden tidak lagi tertunda. Kesimpulan Dengan pendekatan modern, DLP tidak hanya sekadar menghasilkan alert, tetapi membantu tim keamanan memahami konteks, memprioritaskan risiko, dan menyelesaikan insiden lebih cepat dari awal hingga kasus ditutup. Infrastruktur IT yang kuat adalah kunci produktivitas perusahaan. Dengan Forcepoint indonesia, merupakan bagian dari PT. iLogo Infralogy Indonesia, yang merupakan mitra terpercaya dalam solusi Infrastruktur IT dan Cybersecurity terbaik di Indonesia. Hubungi kami sekarang atau kunjungi Forcepoint.ilogoindonesia.id untuk informasi lebih lanjut!
Forcepoint Mengamankan Adopsi AI dan Data di Mana Saja dengan ARIA AI Assistant dan Endpoint Intelligence Baru
“Forcepoint Mengamankan Adopsi AI dan Data di Mana Saja dengan ARIA AI Assistant dan Endpoint Intelligence Baru” Forcepoint mengumumkan peningkatan besar pada platform Data Security Cloud untuk membantu organisasi mengadopsi AI dengan aman serta melindungi data di seluruh lingkungan—baik di cloud, endpoint, maupun aplikasi AI. Inovasi Utama 1. ARIA (Adaptive Risk Intelligence Assistant) Forcepoint memperkenalkan ARIA, sebuah asisten AI yang terintegrasi langsung dalam platform Data Security Cloud. Fungsi utama ARIA: Memahami risiko data di seluruh sistem Menganalisis aktivitas dan kebijakan keamanan Mengidentifikasi celah perlindungan Memberikan rekomendasi kebijakan secara otomatis ARIA juga memungkinkan: Pembuatan kebijakan hanya dengan bahasa natural Respons insiden yang lebih cepat dan otomatis 👉 Intinya: ARIA membantu tim security mengubah analisis risiko → tindakan nyata dalam hitungan detik 2. Pendekatan “Self-Aware Data Security” Forcepoint memperkenalkan konsep: keamanan data yang bisa “menyadari” dan menyesuaikan risiko secara otomatis Artinya: Sistem terus memantau data Menilai risiko secara real-time Secara otomatis menyesuaikan kebijakan keamanan 👉 Ini penting karena AI membuat data: Bergerak lebih cepat Lebih dinamis Lebih sulit dikontrol dengan metode lama 3. Endpoint Intelligence (Proteksi di Device) Forcepoint juga menambahkan kemampuan baru di sisi endpoint (device user): Melindungi data langsung dari laptop / device pengguna Tidak hanya bergantung pada proxy atau jaringan Bisa mengontrol penggunaan data pada aplikasi AI Contohnya: Mengizinkan penggunaan AI resmi perusahaan Mencegah upload data sensitif ke AI publik 👉 Jadi proteksi tidak hanya di network, tapi sampai ke user device 4. Data Security “Everywhere” Platform ini dirancang untuk melindungi data di semua tempat: Cloud SaaS apps Endpoint Data lake / analytics platform Tools AI Forcepoint menggabungkan berbagai teknologi dalam satu platform, seperti: DSPM (Data Security Posture Management) DLP (Data Loss Prevention) DDR (Data Detection & Response) 👉 Tujuannya: satu kebijakan bisa diterapkan ke semua environment 🧠 Kenapa Ini Penting? Forcepoint menekankan bahwa: AI membuat data terus dibuat, diubah, dan dibagikan dengan sangat cepat Security tradisional (statis) tidak lagi cukup 👉 Karena itu, pendekatan baru diperlukan: keamanan berbasis data (data-centric) + AI-driven automation 🏢 Dampak untuk Bisnis & Partner Update ini juga membantu: Partner / MSSP untuk membuat layanan security baru Perusahaan untuk: Mengurangi kompleksitas Mempercepat implementasi security Mengamankan adopsi AI tanpa menghambat produktivitas 🧾 Kesimpulan Sederhana Forcepoint fokus ke AI-driven data security ARIA jadi “otak AI” untuk otomatisasi security Proteksi diperluas hingga ke endpoint dan cloud Tujuan utama: 👉 melindungi data di mana pun dan kapan pun digunakan Infrastruktur IT yang kuat adalah kunci produktivitas perusahaan. Dengan Forcepoint indonesia, merupakan bagian dari PT. iLogo Infralogy Indonesia, yang merupakan mitra terpercaya dalam solusi Infrastruktur IT dan Cybersecurity terbaik di Indonesia. Hubungi kami sekarang atau kunjungi Forcepoint.ilogoindonesia.id untuk informasi lebih lanjut!
F5 dan Forcepoint Mengatasi Celah Keamanan AI Terbesar dengan Kolaborasi Perlindungan Data End-to-End
F5 dan Forcepoint Mengatasi Celah Keamanan AI Terbesar dengan Kolaborasi Perlindungan Data End-to-End Kolaborasi antara F5 dan Forcepoint diumumkan pada ajang RSA Conference 2026, dengan tujuan membantu perusahaan mengamankan AI enterprise di seluruh siklusnya—mulai dari data hingga runtime. Latar Belakang Masalah Banyak perusahaan saat ini mulai mengadopsi AI (seperti chatbot, asisten otomatis, dan workflow berbasis AI). Namun: Praktik keamanan belum mampu mengikuti kecepatan adopsi AI Risiko terbesar ada pada data sensitif yang digunakan dan diproses oleh AI 👉 Inilah celah utama yang ingin diselesaikan oleh F5 dan Forcepoint. 🤝 Solusi Kolaborasi F5 + Forcepoint Kerja sama ini menghadirkan solusi keamanan AI end-to-end (360 derajat) dengan menggabungkan kekuatan masing-masing: Dari Forcepoint: Data discovery (menemukan data sensitif) Data classification (mengklasifikasikan tingkat risiko data) Dari F5: Runtime protection untuk: aplikasi AI API model AI AI agents Enforcement policy dan monitoring saat sistem berjalan 👉 Hasilnya: perlindungan dari data → penggunaan → produksi (runtime) 🧠 Pendekatan Utama: AI Security Lifecycle Solusi ini melihat keamanan AI sebagai proses berkelanjutan, bukan sekali setup: Memahami data (apa yang sensitif) Mengidentifikasi risiko Menerapkan kontrol & kebijakan Memantau dan memastikan keamanan secara terus-menerus 👉 Intinya: “Tidak ada AI tanpa data, dan tidak ada keamanan tanpa memahami aliran data.” 🧩 Integrasi Teknologi Solusi gabungan mencakup: DSPM (Data Security Posture Management) dari Forcepoint AI guardrails & red teaming dari platform F5 Proteksi runtime untuk memastikan AI tetap aman saat digunakan 👉 Ini memungkinkan: Deteksi celah keamanan lebih cepat Penutupan gap dengan policy & kontrol otomatis 🏢 Target Pengguna Solusi ini ditujukan untuk: Enterprise besar (Fortune 500) Industri dengan regulasi ketat seperti fintech Karena mereka: Mengelola data sensitif Membutuhkan compliance tinggi 💬 Pandangan dari F5 VP AI F5 menyebut kolaborasi ini sebagai: “Seperti pasangan yang sangat cocok, bukan sekadar kerja sama biasa.” 🚀 Dampak untuk Partner & Bisnis Kolaborasi ini juga membuka peluang bagi partner untuk menyediakan layanan seperti: AI risk assessment Managed security AI governance services 🧾 Kesimpulan Sederhana AI memperbesar risiko keamanan, terutama pada data Forcepoint fokus di data security F5 fokus di runtime & aplikasi security Kombinasi keduanya menciptakan: 👉 proteksi AI dari awal sampai akhir (end-to-end) Infrastruktur IT yang kuat adalah kunci produktivitas perusahaan. Dengan Forcepoint indonesia, merupakan bagian dari PT. iLogo Infralogy Indonesia, yang merupakan mitra terpercaya dalam solusi Infrastruktur IT dan Cybersecurity terbaik di Indonesia. Hubungi kami sekarang atau kunjungi Forcepoint.ilogoindonesia.id untuk informasi lebih lanjut!