Skip to content
  • Beranda
  • Produk
    • Dynamic Edge Protection
    • Web Security
    • CASB: Cloud Access Security Broker
    • NGFW: Next Gen Firewall
  • Blog
  • Hubungi Kami
placeholder-661-1-1.png
  • Beranda
  • Produk
    • Dynamic Edge Protection
    • Web Security
    • CASB: Cloud Access Security Broker
    • NGFW: Next Gen Firewall
  • Blog
  • Hubungi Kami

Author: hadi s

May 5, 2026May 5, 2026

F5 dan Forcepoint Mengatasi Celah Keamanan AI Terbesar dengan Kolaborasi Perlindungan Data End-to-End

F5 dan Forcepoint Mengatasi Celah Keamanan AI Terbesar dengan Kolaborasi Perlindungan Data End-to-End Kolaborasi antara F5 dan Forcepoint diumumkan pada ajang RSA Conference 2026, dengan tujuan membantu perusahaan mengamankan AI enterprise di seluruh siklusnya—mulai dari data hingga runtime.  Latar Belakang Masalah Banyak perusahaan saat ini mulai mengadopsi AI (seperti chatbot, asisten otomatis, dan workflow berbasis AI). Namun: Praktik keamanan belum mampu mengikuti kecepatan adopsi AI Risiko terbesar ada pada data sensitif yang digunakan dan diproses oleh AI 👉 Inilah celah utama yang ingin diselesaikan oleh F5 dan Forcepoint. 🤝 Solusi Kolaborasi F5 + Forcepoint Kerja sama ini menghadirkan solusi keamanan AI end-to-end (360 derajat) dengan menggabungkan kekuatan masing-masing: Dari Forcepoint: Data discovery (menemukan data sensitif) Data classification (mengklasifikasikan tingkat risiko data) Dari F5: Runtime protection untuk: aplikasi AI API model AI AI agents Enforcement policy dan monitoring saat sistem berjalan 👉 Hasilnya: perlindungan dari data → penggunaan → produksi (runtime) 🧠 Pendekatan Utama: AI Security Lifecycle Solusi ini melihat keamanan AI sebagai proses berkelanjutan, bukan sekali setup: Memahami data (apa yang sensitif) Mengidentifikasi risiko Menerapkan kontrol & kebijakan Memantau dan memastikan keamanan secara terus-menerus 👉 Intinya: “Tidak ada AI tanpa data, dan tidak ada keamanan tanpa memahami aliran data.” 🧩 Integrasi Teknologi Solusi gabungan mencakup: DSPM (Data Security Posture Management) dari Forcepoint AI guardrails & red teaming dari platform F5 Proteksi runtime untuk memastikan AI tetap aman saat digunakan 👉 Ini memungkinkan: Deteksi celah keamanan lebih cepat Penutupan gap dengan policy & kontrol otomatis 🏢 Target Pengguna Solusi ini ditujukan untuk: Enterprise besar (Fortune 500) Industri dengan regulasi ketat seperti fintech Karena mereka: Mengelola data sensitif Membutuhkan compliance tinggi 💬 Pandangan dari F5 VP AI F5 menyebut kolaborasi ini sebagai: “Seperti pasangan yang sangat cocok, bukan sekadar kerja sama biasa.” 🚀 Dampak untuk Partner & Bisnis Kolaborasi ini juga membuka peluang bagi partner untuk menyediakan layanan seperti: AI risk assessment Managed security AI governance services 🧾 Kesimpulan Sederhana AI memperbesar risiko keamanan, terutama pada data Forcepoint fokus di data security F5 fokus di runtime & aplikasi security Kombinasi keduanya menciptakan: 👉 proteksi AI dari awal sampai akhir (end-to-end) Infrastruktur IT yang kuat adalah kunci produktivitas perusahaan. Dengan Forcepoint indonesia, merupakan bagian dari PT. iLogo Infralogy Indonesia, yang merupakan mitra terpercaya dalam solusi Infrastruktur IT dan Cybersecurity terbaik di Indonesia. Hubungi kami sekarang atau kunjungi Forcepoint.ilogoindonesia.id untuk informasi lebih lanjut!

Read More
April 9, 2026April 9, 2026

Forcepoint Mengamankan Adopsi AI dan Data di Mana Saja dengan ARIA AI Assistant Baru dan Endpoint Intelligence

Pemimpin global di bidang keamanan siber, Forcepoint, hari ini mengumumkan peningkatan besar pada platform Data Security Cloud yang berbasis AI, dipimpin oleh ARIA—Adaptive Risk Intelligence Assistant yang tertanam dan menggunakan bahasa alami untuk membuat kebijakan penegakan dan mempercepat respons insiden di berbagai alur kerja yang digerakkan AI. Forcepoint juga memperbarui Global Partner Program, menyelaraskan insentif dan dukungan di sekitar Data Security Cloud untuk membantu mitra menerapkan serta menskalakan keamanan data modern bagi pengguna akhir. Bersama-sama, inovasi ini mengembangkan pendekatan Self-Aware Data Security yang mengenali ancaman sejak terbentuk, menyesuaikan kebijakan dan penilaian risiko secara real time, serta menerapkan kontrol di mana pun data mengalir. Laporan dari World Economic Forum menemukan bahwa 66 % organisasi mengatakan AI akan memiliki dampak paling signifikan pada keamanan siber dalam setahun ke depan, namun sebagian besar belum memiliki proses formal untuk menilai risiko AI. AI merombak cara informasi sensitif dibuat, diubah, dan dibagikan dengan kecepatan mesin di berbagai platform cloud, alat kolaborasi, dan alur kerja bertenaga AI, sehingga data terus berubah setelah dibuat dan memperlebar jurang antara visibilitas dan kontrol. Pembaruan Data Security Cloud saat ini menjawab jurang tersebut dengan otomasi yang sadar AI, inteligensi web berbasis endpoint, dan program mitra yang dirancang untuk membawa Self‑Aware Data Security ke pasar secara luas. Alih‑alih mengandalkan kebijakan statis atau mengalihkan lalu lintas melalui proxy jarak jauh sebelum merespons, Forcepoint menyesuaikan penegakan secara real time, menutup jarak antara deteksi dan tindakan agar bisa mengikuti cara organisasi modern memanfaatkan alat AI. Platform yang Terpadu di Seluruh Kanal Data Security Cloud menyatukan: DSPM (Data Security Posture Management) DLP Cloud Data Detection and Response (DDR) Keamanan Web dan Email CASB RBI Forensik lanjutan Risk‑adaptive protection dalam satu kerangka kebijakan tunggal, mulai dari endpoint hingga cloud. Ini menghilangkan kebutuhan akan banyak produk titik terpisah dan membuat Self‑Aware Data Security menjadi nyata secara praktis dalam operasi sehari‑hari. Ryan Windham, CEO Forcepoint, mengatakan bahwa AI telah membuat data menjadi sesuatu yang terus hidup dan berkembang, mengubah permanen cara informasi merambat dalam organisasi dan menuntut visibilitas serta kontrol yang bergerak secepat itu sendiri. Dengan menyematkan ARIA langsung ke Data Security Cloud, tim keamanan dapat merespons ancaman yang muncul lebih cepat dan memperkuat perlindungan adaptif di berbagai lingkungan modern. Apa Itu ARIA? Forcepoint Adaptive Risk Intelligence Assistant (ARIA) adalah asisten AI yang terintegrasi dalam Data Security Cloud yang: Memahami risiko di seluruh platform Mengidentifikasi celah seperti adopsi alat copilot yang belum punya perlindungan kebijakan Menghasilkan rekomendasi kebijakan dalam hitungan detik dengan alasan yang jelas untuk ditinjau administrator Menyederhanakan respons insiden dengan integrasi ke alat seperti ServiceNow dan Slack Terus memberikan wawasan risiko melalui AI Mesh Forcepoint yang menemukan dan mengklasifikasi miliar elemen data terstruktur dan tidak terstruktur Endpoint Intelligence yang Lebih Kuat Agent terbaru membawa perlindungan adaptif dan inteligensi web langsung ke perangkat endpoint, memeriksa dan melindungi data di perangkat tanpa harus memaksa lalu lintas melalui proxy tradisional. Ini memberikan perlindungan yang lebih tepat untuk aplikasi AI yang disetujui, sambil memblokir informasi sensitif agar tidak mencapai alat AI yang tidak disetujui ataupun penyimpanan cloud pribadi. Perluasan Perlindungan di Seluruh Lingkungan Forcepoint juga memperluas cakupan: Keamanan data terstruktur di cloud data lakehouses seperti Databricks dan Snowflake Integrasi yang lebih dalam dengan Google Workspace Perlindungan konsisten di SaaS, hybrid, endpoint, web, dan email Semua ini untuk membantu organisasi mengelola risiko data modern secara holistik. Program Mitra Global yang Ditingkatkan Berdasarkan masukan mitra, Forcepoint memperbarui Global Partner Program dengan struktur tiga tingkat yang disederhanakan, persyaratan transparan, serta manfaat ekonomi yang jelas di setiap level. Hal ini termasuk hak margin pendaftaran deal tanpa ambang minimum dan deal families yang selaras dengan skenario kasus penggunaan keamanan data. Program ini juga memperluas pelatihan berbayar untuk membantu mitra membedakan diri mereka sebagai penasihat keamanan data yang tepercaya. 🎯 Intinya: Forcepoint memperkuat platform keamanan data mereka dengan AI yang lebih cerdas (ARIA), kemampuan endpoint yang lebih modern, serta dukungan mitra yang lebih luas – semua diarahkan pada keamanan data yang adaptif, real‑time, dan menyeluruh di era otomatisasi dan AI. Infrastruktur IT yang kuat adalah kunci produktivitas perusahaan. Dengan Forcepoint indonesia, merupakan bagian dari PT. iLogo Infralogy Indonesia, yang merupakan mitra terpercaya dalam solusi Infrastruktur IT dan Cybersecurity terbaik di Indonesia. Hubungi kami sekarang atau kunjungi Forcepoint.ilogoindonesia.id untuk informasi lebih lanjut!

Read More
April 9, 2026April 9, 2026

Forcepoint Secures AI Adoption and Data Everywhere with New ARIA AI Assistant and Endpoint Intelligence

Gambaran Umum Forcepoint mengumumkan inovasi terbaru untuk membantu organisasi mengamankan penggunaan AI dan melindungi data di mana pun berada. Fokus utamanya adalah menghadirkan: Asisten AI baru bernama ARIA Peningkatan perlindungan data di endpoint (perangkat pengguna) Pendekatan baru yang disebut Self-Aware Data Security  Inovasi Utama 1. ARIA (Adaptive Risk Intelligence Assistant) ARIA adalah asisten AI yang terintegrasi langsung dalam platform keamanan Forcepoint. Fungsi utama: Memahami risiko data di seluruh sistem Mengidentifikasi celah perlindungan Mengubah analisis risiko menjadi kebijakan keamanan secara otomatis Bisa digunakan dengan bahasa natural (seperti chat) 👉 Intinya: ARIA membantu tim keamanan bergerak lebih cepat dari sekadar “melihat risiko” menjadi “langsung bertindak” 2. Perlindungan Endpoint yang Lebih Cerdas Forcepoint juga memperkenalkan teknologi endpoint baru yang: Mengamankan data langsung dari perangkat pengguna Tidak bergantung sepenuhnya pada proxy jaringan Bisa memantau dan mengontrol aktivitas data secara real-time 👉 Contoh: Mengizinkan penggunaan AI yang aman Mencegah data sensitif dikirim ke AI atau cloud yang tidak resmi 3. Data Security Cloud Berbasis AI Semua fitur ini berjalan dalam platform utama: Forcepoint Data Security Cloud Kemampuannya: Menemukan data sensitif secara otomatis Mengklasifikasikan data Menilai risiko berdasarkan konteks Menerapkan kebijakan keamanan secara konsisten 👉 Tujuan utamanya: Mengamankan data di semua tempat: Cloud Aplikasi SaaS Endpoint Sistem AI  Masalah yang Ingin Diselesaikan Forcepoint menyoroti perubahan besar akibat AI: Data sekarang bergerak sangat cepat (machine speed) Data bisa muncul di: prompt AI output AI tools kolaborasi Kebijakan keamanan lama (statis) tidak lagi cukup 👉 Akibatnya: Perusahaan butuh sistem yang bisa beradaptasi secara real-time  Konsep Baru: “Self-Aware Data Security” Ini adalah pendekatan utama Forcepoint. Artinya: Sistem keamanan tidak hanya “melihat” data Tapi juga: memahami konteks menilai risiko langsung mengambil tindakan 👉 Dengan kata lain: Keamanan menjadi adaptif dan otomatis, bukan manual atau reaktif  Tujuan Akhir Forcepoint ingin membantu organisasi: Mengadopsi AI dengan aman Mengurangi risiko kebocoran data Menjaga produktivitas (tidak menghambat bisnis) 👉 Prinsipnya: Keamanan harus mengikuti data, ke mana pun data itu bergerak Kesimpulan Singkat Artikel ini menunjukkan bahwa: AI mengubah cara data bergerak dan berisiko Forcepoint merespons dengan: AI untuk keamanan (ARIA) proteksi real-time pendekatan berbasis data 👉 Arah industrinya jelas: “Data-centric, AI-driven security” Infrastruktur IT yang kuat adalah kunci produktivitas perusahaan. Dengan Forcepoint indonesia, merupakan bagian dari PT. iLogo Infralogy Indonesia, yang merupakan mitra terpercaya dalam solusi Infrastruktur IT dan Cybersecurity terbaik di Indonesia. Hubungi kami sekarang atau kunjungi Forcepoint.ilogoindonesia.id untuk informasi lebih lanjut!

Read More
April 9, 2026April 9, 2026

Forcepoint Amankan Adopsi AI dan Data Dimanapun dengan ARIA AI Assistant Baru serta Kemampuan Endpoint Intelligence

AUSTIN, Texas – Pemimpin global dalam keamanan siber Forcepoint hari ini mengumumkan peningkatan besar pada platform Data Security Cloud berbasis AI‑native, yang dipimpin oleh ARIA — Adaptive Risk Intelligence Assistant yang terintegrasi. ARIA menggunakan bahasa alami untuk membuat kebijakan penegakan dan mempercepat respons insiden di seluruh alur kerja yang didorong AI. Perusahaan juga memperbarui Global Partner Program untuk menyelaraskan insentif dan kemampuan seputar Data Security Cloud agar para mitra dapat mengimplementasikan dan memperluas keamanan data modern bagi pengguna akhir. Bersama-sama, inovasi ini maju menuju pendekatan Self‑Aware Data Security Forcepoint — yang mengetahui ancaman saat terbentuk, menyesuaikan kebijakan dan skor risiko secara real time, serta menegakkan kontrol di mana pun data mengalir. Laporan terbaru menunjukkan bahwa sebagian besar organisasi menganggap AI akan berdampak signifikan pada keamanan siber dalam setahun ke depan, namun banyak yang belum memiliki proses formal untuk menilai risiko AI. Saat AI mengubah cara informasi sensitif dibuat, diubah, dan dibagikan dengan kecepatan mesin melalui cloud, alat kolaborasi, dan alur kerja AI, data terus berkembang jauh setelah dibuat, memperlebar kesenjangan antara visibilitas dan kontrol. Pembaruan Data Security Cloud saat ini dirancang untuk mengatasi kesenjangan ini dengan otomatisasi yang sadar AI, intelijen web on‑device, dan program mitra yang dirancang ulang untuk membawa Self‑Aware Data Security ke pasar dengan skala luas. Alih‑alih bergantung pada kebijakan statis atau merutekan lalu lintas melalui proxy jarak jauh sebelum merespons, Forcepoint menyesuaikan penegakan secara real time — selaras dengan bagaimana tenaga kerja modern menggunakan alat AI. Inovasi Utama dalam Data Security Cloud 2026 1. ARIA — Adaptive Risk Intelligence Assistant ARIA terbenam secara langsung di dalam Data Security Cloud. ARIA memahami risiko di seluruh platform, mengidentifikasi celah seperti penggunaan copilot baru tanpa perlindungan kebijakan, lalu menghasilkan rekomendasi kebijakan hanya dalam hitungan detik dengan alasan yang jelas untuk ditinjau administrator. Pengguna dapat membuat atau memperbarui kebijakan serta menyebarkannya di berbagai saluran dari satu antarmuka. ARIA juga mempercepat respons insiden dengan integrasi ke alat seperti ServiceNow dan Slack, sambil terus memberikan wawasan risiko yang didorong oleh AI Mesh Forcepoint — yang menemukan serta mengklasifikasi miliaran elemen data terstruktur dan tidak terstruktur. 2. Agen Data Security Everywhere Generasi Baru Agen baru menghadirkan perlindungan adaptif dan intelijen web langsung di endpoint, memeriksa dan melindungi data pada perangkat tanpa harus merutekan traffic melalui proxy tradisional. Agen ini mengelola perlindungan berskala presisi untuk aplikasi AI yang disetujui, sekaligus memblokir informasi sensitif agar tidak mencapai alat AI yang tidak disetujui atau penyimpanan cloud pribadi. Agen ini menggabungkan penegakan adaptif, investigasi, forensik, dan kesadaran pengguna dalam satu paket yang mendukung lingkungan cloud dan on‑premises, sehingga organisasi dapat memodernisasi tanpa mengorbankan keamanan. 3. Perluasan Perlindungan ke Lingkungan Modern Forcepoint memperluas keamanan data terstruktur ke cloud data lakehouses seperti Databricks dan Snowflake, memperdalam integrasi dengan Google Workspace, serta memperluas cakupan perlindungan yang konsisten di SaaS, hibrida, endpoint, web, dan saluran email. Global Partner Program yang Ditingkatkan Berdasarkan masukan mitra, Forcepoint memperbarui Global Partner Program untuk menyelaraskan insentif, kemampuan, dan struktur kesepakatan seputar Data Security Cloud. Program yang didesain ulang memperkenalkan struktur tiga tingkat yang lebih sederhana dengan persyaratan transparan serta manfaat ekonomi yang jelas di setiap tingkatan. Termasuk di dalamnya margin registrasi kesepakatan tanpa ambang minimum dan rangkaian kesepakatan yang selaras dengan use case keamanan data. Program ini juga memperluas kemampuan pelatihan yang dapat dibayar untuk membantu mitra membedakan diri mereka sebagai penasihat keamanan data tepercaya. Acara dan Peragaan Produk Forcepoint akan memamerkan peningkatan Data Security Cloud ini pada acara virtual AWARE Spring 2026 pada 4 Maret serta di RSA Conference 2026 yang digelar 23–26 Maret, menampilkan use case nyata serta pandangan lebih dekat terhadap inovasi yang diumumkan. Infrastruktur IT yang kuat adalah kunci produktivitas perusahaan. Dengan Forcepoint indonesia, merupakan bagian dari PT. iLogo Infralogy Indonesia, yang merupakan mitra terpercaya dalam solusi Infrastruktur IT dan Cybersecurity terbaik di Indonesia. Hubungi kami sekarang atau kunjungi Forcepoint.ilogoindonesia.id untuk informasi lebih lanjut!

Read More
April 9, 2026April 9, 2026

Berikut adalah momen‑momen paling penting dalam acara AWARE Spring 2026

Acara virtual Forcepoint AWARE Spring 2026 menghadirkan para CISO global, praktisi keamanan, analis industri, dan pelanggan untuk membahas tantangan besar yang mengubah cara organisasi mengamankan data: AI telah secara mendasar mengubah perilaku data, namun alat keamanan tradisional belum mengikuti kecepatan tersebut. Dari lima sesi yang ada, satu tema menjadi sangat jelas: jarak antara melihat risiko dan menghentikannya bukan lagi sekadar gangguan — itu adalah ancaman eksistensial di era data yang selalu aktif dan didorong oleh AI. Berikut adalah lima insight terpenting yang perlu diketahui setiap profesional keamanan. 1. Melihat Risiko Tidak Sama dengan Menghentikannya Ryan Windham, CEO Forcepoint, membuka acara dengan menegaskan tantangan yang sering dirasakan oleh banyak pemimpin keamanan: Visibilitas tanpa tindakan bukanlah perlindungan, dan tindakan tanpa pemahaman juga tidak — bahkan itu berbahaya. Di dunia di mana data dihasilkan, diubah, dirangkum, dan disebarkan oleh AI ke berbagai aplikasi SaaS dan alur kerja otomatis secara instan, model keamanan lama dengan aturan statis sudah tidak relevan lagi. Yang menggantikannya adalah sebuah loop berkelanjutan yang mampu mengidentifikasi risiko dan kemudian mengambil tindakan secara seketika — fondasi dari apa yang disebut Self‑Aware Data Security. Ini juga yang dihadirkan oleh platform Forcepoint Data Security Cloud: visibilitas dan kontrol terpadu dalam satu platform. 2. Kenali ARIA: Asisten AI yang Selalu Aktif Naveen Palavalli (Chief Product Officer) dan Bakshi Kohli (CTO) menunjukkan secara langsung bagaimana Forcepoint Data Security Cloud mampu merespons risiko internal di semua kanal sekaligus. Naveen menggambarkan apa yang selama ini diinginkan oleh tim keamanan: Bayangkan punya penasihat tepercaya yang terjaga 24 jam sehari, 7 hari seminggu, yang mengenal lingkunganmu, memantau setiap insiden, dan secara proaktif merekomendasikan langkah selanjutnya tanpa perlu diminta. Itulah ARIA — Adaptive Risk Intelligence Assistant — asisten AI baru yang tertanam dalam Data Security Cloud. ARIA menganalisis aktivitas dan cakupan kebijakan, mengidentifikasi celah perlindungan, lalu menerjemahkan sinyal risiko menjadi kebijakan yang direkomendasikan dan siap diterapkan dalam hitungan detik, yang ditegakkan melalui mesin DLP unggulan Forcepoint. Sesi ini juga memperkenalkan agen Data Security Everywhere (DSE) generasi berikutnya, yang menawarkan opsi penerapan fleksibel dan integrasi identitas terpadu. Bersama ARIA, agen ini menjaga perlindungan yang konsisten di endpoint, alur kerja AI, web, SaaS, dan email — semuanya beradaptasi secara real time saat risiko berubah. 3. Fondasi Data Harus Didahulukan Brian Johnson (Direktur Keamanan TI di Liberty University) dan Ronan Murphy (Chief Data Strategy Officer di Forcepoint) berbicara secara gamblang tentang pentingnya mengamankan data dalam skala besar. Ronan secara tegas menyatakan: Kamu hanya satu prompt saja dari potensi pelanggaran. Tidak seperti kasus di mana seorang karyawan secara tidak sengaja mengirimkan file yang salah, sebuah model besar (LLM) dengan akses tak terbatas bisa mengonsumsi seluruh data dalam hitungan detik — mulai dari CRM, data finansial, PII, hingga kekayaan intelektual. Pengalaman Brian di Liberty University — dengan lebih dari 100.000 mahasiswa di berbagai zona waktu — menunjukkan bahwa investasi awal dalam visibilitas dan klasifikasi data membuat keamanan menjadi enabler bisnis, bukan penghambat. 🍃 4. Mengatasi Masalah yang Disebabkan Orang Heidi Shey, analis utama dari Forrester, menyampaikan salah satu analogi paling berkesan: 🚼 Copilot AI itu seperti balita — kalau tidak dibuat aman, mereka akan mengambil apa pun yang mereka temukan di rak. Copilot dan agen AI tidak punya penilaian sendiri. Mereka hanya menampilkan apa pun yang bisa mereka akses. Tanpa penemuan data, klasifikasi, dan perlindungan yang tepat, copilot justru menjadi liability (beban risiko). Lebih jauh lagi, hampir sepertiga organisasi belum memiliki kebijakan penggunaan AI yang memadai. Penelitian menunjukkan bahwa setidaknya 10–15 jam pelatihan dan dukungan berkelanjutan diperlukan untuk penggunaan AI yang bermakna — bukan sekadar sesi singkat satu jam. 5. Dari Kebisingan Menjadi Aksi Eva Klein, Chief Customer Officer Forcepoint, menutup acara dengan pesan yang konsisten dari setiap percakapan pelanggan: Deteksi tanpa konteks hanyalah kebisingan — tidak ada sinyal — dan visibilitas tanpa penegakan hanyalah melihat masalah tanpa menyelesaikannya. Banyak pelanggan memiliki ambisi besar, namun kurang percaya diri bahwa bergerak cepat tidak berarti kehilangan kendali atas data. Kepercayaan itu baru muncul dari fondasi yang menghubungkan pemahaman dengan penegakan, dan beradaptasi saat risiko berubah. Contoh aktualnya adalah organisasi seperti Mariner Finance yang mendapat keuntungan signifikan dari menyetel kebijakan di Data Security Cloud. ARIA diharapkan menjadi alat yang mempercepat peralihan dari reaktif menjadi siap, dari mengejar peringatan menjadi bertindak dengan percaya diri. Pesan Akhir: Fondasinya Sudah Terbentuk Pesan utama dari setiap sesi di AWARE Spring 2026 sangat jelas: jarak antara visibilitas dan kontrol itu nyata, terus melebar, dan membutuhkan respons yang bergerak secepat data itu sendiri. Self‑Aware Data Security adalah cara Forcepoint menutup celah tersebut: ✨ Discovery → Classification → Prioritization → Remediation → Adaptive Enforcement — semuanya bekerja dalam sebuah loop kontinu. ARIA bekerja sebagai lapisan intelijen yang selalu aktif dalam loop ini, sehingga organisasi 🔹 tahu di mana data mereka berada, 🔹 dapat beradaptasi saat risiko berubah, 🔹 dan melindungi yang paling penting sebelum paparan berubah menjadi dampak nyata. Infrastruktur IT yang kuat adalah kunci produktivitas perusahaan. Dengan Forcepoint indonesia, merupakan bagian dari PT. iLogo Infralogy Indonesia, yang merupakan mitra terpercaya dalam solusi Infrastruktur IT dan Cybersecurity terbaik di Indonesia. Hubungi kami sekarang atau kunjungi Forcepoint.ilogoindonesia.id untuk informasi lebih lanjut!

Read More
March 11, 2026March 11, 2026

Praktik Terbaik Keamanan AI: Cara Melindungi Data Sensitif dalam Tools GenAI

AI generatif kini sudah menjadi bagian dari cara karyawan melakukan penelitian, merangkum informasi, menulis, membuat kode, dan mengambil keputusan. Perubahan ini juga mengubah profil risiko keamanan, karena setiap prompt, copy-paste, upload file, konektor, dan output AI dapat menjadi titik potensi kebocoran data. Tujuan utama program keamanan AI bukan hanya membuat kebijakan baru, tetapi menerapkan kontrol keamanan yang dapat ditegakkan pada momen ketika data sensitif paling berisiko bocor ke alat AI yang salah, plugin, atau log sistem. Mengapa GenAI Mengubah Risiko Kebocoran Data GenAI memungkinkan banyak aktivitas data dilakukan dalam satu antarmuka. Misalnya dalam beberapa detik pengguna dapat: Menempelkan data sensitif untuk konteks Mengunggah kontrak untuk diringkas Menghubungkan AI dengan repository perusahaan Risiko meningkat ketika: Penggunaan shadow AI lebih cepat daripada kebijakan keamanan Kontrol keamanan berbeda antara perangkat terkelola dan tidak terkelola Data berpindah melalui berbagai layanan SaaS Artinya, tim keamanan tidak hanya menyetujui vendor AI, tetapi juga harus mengamankan model interaksi baru yang menciptakan jalur data baru. Mulai dengan Peta Data AI (AI Data Map) Sebelum membuat kebijakan, organisasi perlu membuat peta data AI yang diperbarui secara berkala. Peta ini harus mencakup: 1. Inventaris alat AI Semua tools GenAI yang digunakan, baik yang resmi maupun shadow AI. 2. Jenis data berisiko Contohnya: PII (data pribadi) PHI (data kesehatan) PCI (data pembayaran) kredensial source code daftar pelanggan kontrak roadmap bisnis 3. Jalur interaksi data Bagaimana data masuk atau keluar dari AI: copy-paste upload file download hasil AI plugin konektor sistem perusahaan 4. Titik kontrol keamanan Misalnya: secure web gateway endpoint security SaaS security API AI perusahaan Jika organisasi tidak mengetahui alat, data, dan jalur data, maka keamanan AI sulit diterapkan secara efektif. Mengontrol Shadow AI Tanpa Menghambat Produktivitas Shadow AI biasanya muncul bukan karena niat jahat, tetapi karena pengguna ingin bekerja lebih cepat. Langkah yang disarankan: 1. Buat allowlist yang spesifik Misalnya bukan hanya “ChatGPT”, tetapi tenant perusahaan yang disetujui. 2. Blokir sekaligus arahkan pengguna Jangan hanya memblokir AI. Berikan alternatif yang aman. 3. Sentralisasi kontrol akses Akses AI harus melalui titik kontrol yang bisa dipantau. Indikator penting: berapa persen penggunaan AI yang terlihat dan dikontrol, dibandingkan yang tidak diketahui. Pasang Guardrails pada Prompt, Upload, dan Output Sebagian besar kebocoran data terjadi ketika pengguna memberikan konteks ke AI. Kontrol penting yang disarankan: 1. Pemeriksaan prompt Mendeteksi data sensitif sebelum prompt dikirim. 2. Kontrol upload Mencegah file sensitif diunggah ke tools AI yang tidak disetujui. 3. Kontrol output Memeriksa hasil AI sebelum: diunduh disalin dibagikan 4. Konsistensi kontrol Kebijakan harus berlaku di: web endpoint SaaS Klasifikasi Data untuk Kebijakan AI Organisasi sebaiknya mengelompokkan data seperti berikut: Tidak boleh masuk ke GenAI password encryption keys identifier yang diatur regulasi daftar pelanggan laporan keuangan yang belum dirilis repository source code Hanya boleh pada AI perusahaan konten internal perusahaan Umumnya diperbolehkan informasi publik data dengan sensitivitas rendah Forcepoint menekankan bahwa pemblokiran berdasarkan keyword saja tidak cukup. Kebijakan harus berbasis klasifikasi data. Mengamankan Konektor dan Agen AI Ketika AI terhubung ke: email SharePoint CRM sistem tiket risiko meningkat. Karena itu harus diterapkan prinsip: Least Privilege (hak akses minimal) Langkah penting: batasi akses konektor batasi folder dan data yang dapat diakses minta persetujuan manusia untuk tindakan penting catat log aktivitas konektor Jika izin konektor tidak dikontrol, maka AI assistant dapat mengakses terlalu banyak data. Mengatasi Prompt Injection Serangan prompt injection tidak bisa diatasi hanya dengan pelatihan pengguna. Solusi yang disarankan: anggap output AI sebagai input yang tidak terpercaya batasi tindakan AI dengan aturan yang ketat pisahkan rekomendasi AI dari eksekusi sistem lakukan red-team testing secara rutin Bukti Kepatuhan (Compliance Evidence) Organisasi juga harus mampu menunjukkan bukti penggunaan AI yang aman. Contoh bukti yang diperlukan: siapa menggunakan AI dari perangkat apa kebijakan apa yang diterapkan konektor apa yang digunakan bagaimana data disimpan Framework yang dapat digunakan: NIST AI Risk Management Framework ISO/IEC 42001 untuk manajemen AI. Rencana Implementasi 30-60-90 Hari Hari 0–30 membuat peta data AI membuat daftar alat AI yang disetujui menerapkan kontrol prompt dan upload Hari 31–60 memperluas kontrol ke perangkat tidak terkelola membatasi izin konektor Hari 61–90 membuat laporan audit melakukan pengujian prompt injection menetapkan siklus governance AI Peran Solusi Forcepoint Forcepoint menyarankan kombinasi solusi berikut: DSPM Menemukan dan mengklasifikasikan data sensitif di cloud dan SaaS. SWG (Secure Web Gateway) Mengontrol akses ke layanan AI melalui browser. DLP (Data Loss Prevention) Mencegah kebocoran data di web, endpoint, email, dan cloud. ✅ Kesimpulan utama artikel: Keamanan AI bukan hanya tentang model AI, tetapi tentang melindungi data yang berinteraksi dengan AI. Organisasi harus mengontrol: prompt upload file output AI konektor sistem agar penggunaan GenAI tetap aman dan tidak menyebabkan kebocoran data. Infrastruktur IT yang kuat adalah kunci produktivitas perusahaan. Dengan  Forcepoint indonesia, merupakan bagian dari PT. iLogo Infralogy Indonesia, yang merupakan mitra terpercaya dalam solusi Infrastruktur IT dan Cybersecurity terbaik di Indonesia. Hubungi kami sekarang atau kunjungi Forcepoint.ilogoindonesia.id untuk informasi lebih lanjut!

Read More
March 11, 2026March 11, 2026

Apa yang Dicari dalam Solusi Manajemen Risiko Orang Dalam

Perusahaan tidak membutuhkan dashboard risiko orang dalam yang hanya menjelaskan apa yang sudah terjadi — mereka membutuhkan solusi manajemen risiko orang dalam yang mampu mengubah hasil saat pekerjaan sedang berlangsung, bukan setelah data sensitif sudah berpindah. Itulah perbedaan antara perangkat lunak yang hanya menghasilkan banyak sinyal atau peringatan dengan perangkat yang mengurangi paparan risiko, mencegah kehilangan data, dan menghasilkan bukti yang bisa dipertanggungjawabkan di depan pimpinan. Mengapa Banyak Program Manajemen Risiko Orang Dalam Stagnan Risiko orang dalam bukan satu masalah tunggal — ini adalah pola yang terdiri dari: pengguna dengan akses tinggi alur kerja yang lebih cepat daripada tata kelola dan kontrol yang tidak mampu mengikuti aktivitas di SaaS, browser, dan GenAI. Sebagian besar program gagal karena fokus pada visibilitas saja, dengan anggapan pengawasan otomatis akan diikuti oleh kontrol. Dalam praktiknya, visibilitas hanya berdampak ketika tiga hal terpenuhi sekaligus: Anda memahami konteks data secara akurat: apa yang sensitif, di mana lokasi data, siapa yang dapat mengaksesnya. Anda dapat mengintervensi di saat kejadian (misalnya: memblokir atau membimbing pengguna). Anda dapat membuktikan adanya perbaikan dari waktu ke waktu, seperti pengurangan jalur berisiko atau beban operasional yang lebih ringan. Jika salah satu tidak terpenuhi, program berubah menjadi aliran alert dan investigasi tanpa hasil nyata. Definisi Solusi Manajemen Risiko Orang Dalam Solusi yang baik harus memisahkan antara deteksi dan kontrol: Deteksi menjawab: apa yang terjadi, siapa yang melakukannya, seberapa sering. Kontrol menjawab: dapatkah kita mengurangi kondisi yang memicu perilaku berisiko, lalu menghentikan tindakan penting saat itu terjadi. Definisi yang berlaku di dewan direksi: Solusi manajemen risiko orang dalam adalah sistem yang mengubah risiko yang digerakkan manusia menjadi pengurangan paparan data sensitif yang terukur dan dapat ditegakkan. Tren Risiko: Governance Tidak Mengimbangi Pergerakan Risiko Cerita risiko orang dalam modern jarang berupa ancaman berbahaya yang eksplisit. Lebih sering ini melibatkan pengguna normal melakukan tugas normal dalam lingkungan yang tidak normal, seperti: berbagi file keluar untuk memenuhi tenggat waktu menyalin data ke alur kerja pribadi karena alat resmi lambat mengekspor set data untuk tim lain menempelkan konten ke alat GenAI untuk ringkasan atau analisis Perilaku ini tidak otomatis mencurigakan, tapi menjadi berisiko ketika lingkungan sudah terlalu terekspos, misalnya: repositori yang terlalu dibagikan kepemilikan data yang tidak jelas izin berlebihan penggunaan AI yang tidak terkelola Solusi yang hanya mendeteksi pola tidak cukup jika organisasi tetap menjalankan cara kerja yang membuat risiko itu menjadi tak terhindarkan. Lima Sinyal Bahwa Platform Dapat Memberikan Kontrol Artikel ini menyebutkan lima tanda bahwa sebuah solusi bukan sekadar alat pengawasan, tetapi benar‑benar mengubah hasil risiko: 1. Konteks Data yang Terpercaya Solusi harus tahu data mana yang sensitif, di mana disimpan, siapa yang memiliki akses, dan jalur akses mana yang berisiko tinggi. 2. Prioritas Risiko berlandaskan Konteks, Bukan Secara Terpisah Skor risiko harus menggabungkan sensitivitas data dengan cara data itu terekspos — misalnya data sensitif + akses luas atau + berbagi eksternal. 3. Tindakan Kontrol yang Sesuai dengan Cara Kerja Nyata Solusi harus mendukung aturan yang realistis: Coach saat berisiko tapi tidak berbahaya Block bila melanggar parameter risiko Allow bila aman dengan visibilitas penuh 4. Cakupan di Jalur Keluar Data yang Sesungguhnya Kontrol risiko tidak cukup hanya di satu tempat. Data keluar melalui browser, SaaS, email, endpoint, dan GenAI — semuanya perlu pengawasan yang konsisten. 5. Bukti yang Menunjukkan Kemajuan, Bukan Hanya Aktivitas Metode pengukuran harus fokus pada hasil nyata, seperti: berkurangnya oversharing berkurangnya izin berlebihan berkurangnya data sensitif yang terekspos bukti audit yang cepat dan jelas Pendekatan Forcepoint Forcepoint menganggap risiko orang dalam sebagai masalah kontrol, bukan pengawasan semata. Tujuannya: Mengurangi paparan data sensitif Menegakkan kebijakan di semua titik kerja Menyesuaikan kontrol secara otomatis sesuai risiko pengguna Solusi ini dibangun dari kombinasi beberapa teknologi utama: DSPM (Data Security Posture Management): menemukan data sensitif dan memperbaiki kondisi paparan awal. DLP (Data Loss Prevention): menegakkan kebijakan pada jalur keluar data nyata seperti email, web, endpoint, dan cloud. Risk‑Adaptive Protection: menyesuaikan kontrol keamanan secara real‑time sesuai perilaku dan risiko pengguna. Cara Menguji Vendor dalam Demo Ketika mengevaluasi vendor, gunakan skenario realistis seperti: Seorang pengguna dengan akses yang sah mengekspor data sensitif, kemudian mencoba mengunggahnya ke cloud pribadi atau memasukkannya ke alat GenAI untuk merangkum — apa yang terjadi? Vendor harus menunjukkan: bagaimana mereka mengetahui data itu sensitif bagaimana mereka mengidentifikasi apakah repositori terlalu dibagikan tindakan kontrol apa yang dipicu saat kejadian adaptasi keputusan saat risiko berubah secara real‑time bukti audit yang dihasilkan Kesimpulan Risiko orang dalam tidak diatasi hanya dengan pengawasan yang lebih banyak. Itu diatasi ketika paparan data sensitif mengecil, kontrol konsisten di seluruh jalur keluar, dan kebijakan menyesuaikan dengan risiko nyata — tanpa memperlambat produktivitas. Infrastruktur IT yang kuat adalah kunci produktivitas perusahaan. Dengan  Forcepoint indonesia, merupakan bagian dari PT. iLogo Infralogy Indonesia, yang merupakan mitra terpercaya dalam solusi Infrastruktur IT dan Cybersecurity terbaik di Indonesia.  Hubungi kami sekarang atau kunjungi Forcepoint.ilogoindonesia.id untuk informasi lebih lanjut!

Read More
February 25, 2026February 25, 2026

Kerentanan Forcepoint DLP Memungkinkan Manipulasi Memori & Eksekusi Kode Arbitrer

Sebuah kerentanan keamanan serius telah diungkapkan di Forcepoint One DLP Client yang memungkinkan penyerang untuk melewati batasan Python yang diberlakukan vendor dan mengeksekusi kode arbitrer pada komputer perusahaan. Kerentanan ini diberi kode CVE‑2025‑14026, dan melemahkan kontrol DLP (Data Loss Prevention) yang dirancang untuk melindungi data sensitif organisasi.  Detail Kerentanan Produk yang Terpengaruh: Forcepoint One DLP Client Versi Terpengaruh: Versi 23.04.5642 dan kemungkinan versi‑versi berikutnya Jenis Kerentanan: Bypass pembatasan keamanan / eksekusi kode arbitrer Jalur Serangan: Lokal dengan patch pada modul Python eksternal Versi Forcepoint One DLP Client yang terpengaruh tersebut menyertakan runtime Python 2.5.4 yang dibatasi — Python ini sengaja dikirim tanpa pustaka ctypes (foreign function interface / FFI) untuk mencegah eksekusi kode berbahaya. Namun, seorang peneliti keamanan bernama Keith Lee menunjukkan cara untuk sepenuhnya melewati mekanisme proteksi ini.  Bagaimana Penyerang Mengeksploitasi Penyerang dapat: Memindahkan dependensi ctypes yang sudah dikompilasi dari komputer lain ke sistem target. Menerapkan patch pada modul ctypes.pyd sehingga Python yang semula dibatasi dapat memuat ctypes. Setelah berhasil, Python tersebut dapat langsung memanggil DLL, mengakses/memanipulasi memori, dan menjalankan kode arbitrer atau muatan berbahaya berbasis DLL.  Dampak terhadap Keamanan Eksekusi kode arbitrar di dalam proses DLP merupakan masalah serius karena: DLP merupakan kontrol keamanan penting pada endpoint perusahaan. Penyerang dapat membypass aturan DLP, mengubah perilaku klien, atau mematikan fungsi pemantauan keamanan. Eksploitasi yang berhasil dapat berarti pengurangan efektivitas perlindungan DLP dan melemahkan keamanan sistem secara keseluruhan.  Tindakan Mitigasi & Solusi Forcepoint telah mengakui kerentanan ini dan menyatakan bahwa runtime Python yang rentan telah dihapus dari build Forcepoint One Endpoint sejak versi 23.11 sebagai bagian dari Forcepoint DLP v10.2. CERT/CC menyarankan organisasi untuk segera: Memperbarui ke versi endpoint terbaru yang tidak lagi menyertakan python.exe. Menerapkan versi yang telah di‑patch di semua endpoint perusahaan untuk memulihkan integritas perlindungan DLP. Infrastruktur IT yang kuat adalah kunci produktivitas perusahaan. Dengan Forcepoint indonesia, merupakan bagian dari PT. iLogo Infralogy Indonesia, yang merupakan mitra terpercaya dalam solusi Infrastruktur IT dan Cybersecurity terbaik di Indonesia. Hubungi kami sekarang atau kunjungi Forcepoint.ilogoindonesia.id untuk informasi lebih lanjut!

Read More
February 25, 2026February 25, 2026

Penyerang Mengumpulkan Login Dropbox melalui Umpan PDF Palsu

Sebuah kampanye phishing tanpa malware menargetkan kotak masuk email perusahaan dan meminta karyawan untuk membuka “permintaan pesanan”, yang pada akhirnya mengarah pada pencurian kredensial Dropbox. Strategi Phishing Baru Para penyerang menggunakan skema phishing bertahap yang dirancang untuk menipu organisasi agar memberikan login Dropbox mereka. Penelitian ini dipublikasikan oleh vendor keamanan data Forcepoint setelah aktivitasnya diamati di dunia nyata. Rangkaian serangan biasanya seperti ini: pelaku mengirim email ke target yang meminta mereka membuka tautan PDF untuk meninjau “pesanan palsu.” PDF itu berisi tautan ke situs phishing Dropbox yang terlihat sangat meyakinkan. Target diminta login menggunakan alamat email perusahaan mereka untuk melihat “pesanan” tersebut. Setelah kredensial dimasukkan, situs palsu menunjukkan pesan “nama pengguna/kata sandi salah.” Sementara itu, pelaku mendapatkan kredensial Dropbox dan data lokasi pengguna.  Apa yang Membuat Kampanye Ini Efektif Beberapa faktor membuat serangan ini berbahaya: Tidak ada malware yang disertakan — Baik PDF, email, maupun situs phishing tidak membawa malware tradisional. Fokusnya hanya pada pencurian kredensial. Menggunakan tautan dan dokumen yang tampak sah — PDF pertama tampak seperti file bisnis biasa (“permintaan pesanan”) dan dihosting melalui layanan cloud sah, sehingga sering lolos dari pemeriksaan keamanan email. Menyusup ke sistem otentikasi email — Email tampaknya berasal dari alamat internal atau valid, membantu melewati pemeriksaan SPF, DKIM, dan DMARC yang umum digunakan untuk blokir spam atau penipuan. Pengalihan bertahap — Setelah membuka PDF pertama, pengguna diarahkan ke PDF lain yang memuat tautan ke halaman login palsu, yang membuat keseluruhan alur terlihat kredibel.  Teknik Perangkat Sosial yang Dipakai Metode ini memanfaatkan kepercayaan pengguna terhadap: PDF yang tampak profesional — Biasanya digunakan untuk faktur dan pesanan bisnis. Logo dan tampilan Dropbox yang otentik — Membuat korban tidak curiga saat diminta login. Delay simulasi login — Situs palsu menunggu beberapa detik sebelum menampilkan pesan kesalahan login agar terlihat seperti kegagalan teknis biasa.  Dampak Begitu kredensial berhasil dicuri, penyerang dapat: Mengambil alih akun Dropbox korban. Mengakses atau menyebarkan konten internal perusahaan. Menggunakan data lokasi dan sistem untuk tujuan penipuan atau pergerakan lateral dalam jaringan. Infrastruktur IT yang kuat adalah kunci produktivitas perusahaan. Dengan Forcepoint indonesia, merupakan bagian dari PT. iLogo Infralogy Indonesia, yang merupakan mitra terpercaya dalam solusi Infrastruktur IT dan Cybersecurity terbaik di Indonesia. Hubungi kami sekarang atau kunjungi Forcepoint.ilogoindonesia.id untuk informasi lebih lanjut!

Read More
February 25, 2026February 25, 2026

Forcepoint Akuisisi Getvisibility, Memperluas Keamanan Data dan Visibilitas Risiko Berbasis AI

Pemimpin global di bidang keamanan data, Forcepoint, hari ini mengumumkan bahwa perusahaan telah menandatangani perjanjian definitif untuk mengakuisisi Getvisibility, sebuah inovator dalam Data Security Posture Management (DSPM) dan Data Detection and Response (DDR) berbasis kecerdasan buatan (AI). Akuisisi ini memperkuat kemampuan platform Data Security Everywhere milik Forcepoint yang menyatukan visibilitas dan kontrol atas data sensitif, sementara Getvisibility meningkatkan kemampuan pengguna untuk mengidentifikasi dan mengurangi risiko data. Integrasi ini diharapkan menyederhanakan manajemen keamanan, memperkuat mitigasi risiko, dan mempercepat kepatuhan bagi pelanggan di sektor perusahaan besar dan pemerintahan. Perjanjian tersebut dibangun berdasarkan kemitraan sukses selama beberapa tahun terakhir, dengan integrasi lebih dalam visibilitas risiko dan kemampuan remediasi berbasis AI dari Getvisibility ke dalam solusi keamanan data Forcepoint yang mencakup seluruh siklus hidup data. Dengan menguatkan interoperabilitas antara kemampuan DSPM dan DDR dari Getvisibility dengan arsitektur Data Security Everywhere, Forcepoint kini memungkinkan penemuan, pengklasifikasian, prioritas, remediasi, dan perlindungan data sensitif — termasuk data pribadi (PII), kekayaan intelektual, dan aset penting lainnya — secara seamless di lingkungan hybrid modern dan AI. Teknologi DSPM dan AI Mesh dari Getvisibility — berupa jaringan model AI terkoordinasi yang dirancang untuk meningkatkan akurasi dan kecepatan dalam pengklasifikasian data dan deteksi risiko — telah menjadi komponen inti dari pendekatan keamanan data Forcepoint selama lebih dari dua tahun. Teknologi ini memberi pelanggan dan mitra visibilitas mendalam atas risiko‑risiko data, seperti data duplikat atau usang, akses yang tidak tepat, file yang salah tempat, dan paparan terhadap peraturan. Kemampuan DDR milik Getvisibility yang terintegrasi dengan AI juga mengotomatisasi klasifikasi dan memungkinkan remediasi dinamis, sehingga ancaman bisa dikurangi sebelum berkembang lebih jauh. Integrasi ini diperluas melalui akuisisi, memberikan keamanan yang komprehensif dan terus menyesuaikan cara pengguna mengakses, membagikan, dan berinteraksi dengan data di berbagai perangkat, aplikasi cloud, dan platform GenAI. CEO Forcepoint, Ryan Windham, mengatakan bahwa “Data adalah mata uang baru dalam bisnis, dan setiap organisasi berlomba untuk membuka nilainya sambil meminimalkan risiko.” Dengan integrasi DSPM dan DDR berbasis AI dari Getvisibility ke dalam portofolio Forcepoint, perusahaan dimaksudkan untuk membekali organisasi dengan visibilitas, otomatisasi, dan kontrol adaptif yang diperlukan untuk mengubah keamanan data — bukan sekadar kewajiban kepatuhan — tetapi menjadi keunggulan strategis. Akuisisi ini menguatkan komitmen Forcepoint untuk membantu organisasi melindungi data sensitif secara luas sekaligus menjadikan keamanan sebagai pendorong pertumbuhan dan inovasi. Manajemen risiko data menjadi sangat penting untuk keberhasilan setiap organisasi karena data sangat penting untuk analisis akurat, pengambilan keputusan, inovasi, dan keunggulan kompetitif. Kehilangan data sensitif dan kekayaan intelektual tidak hanya berujung pada denda regulasi dan biaya pemulihan, tetapi juga dapat membawa dampak finansial besar — dengan rata‑rata biaya pelanggaran data mencapai sekitar US$5 juta. Selain itu, tren tuntutan hukum akibat pelanggaran diperkirakan akan meningkat hingga melebihi denda regulasi sekitar 50% pada 2025. Frank Dickson, Group Vice President untuk produk keamanan siber di IDC, menyatakan bahwa karena data yang terus meningkat di cloud dan platform AI generatif meningkatkan risiko eksposur data sensitif, banyak organisasi kesulitan mengetahui di mana data mereka berada, bagaimana data tersebut digunakan, seberapa sensitifnya — dan bagaimana cara melindunginya. Karena itu, perusahaan kini mencari solusi terintegrasi yang menyatukan visibilitas dan kontrol, agar dapat mengurangi kompleksitas, biaya, dan risiko saat terus berinovasi. Dengan pendekatan Forcepoint Data Security Everywhere, kebijakan keamanan kini dapat diintegrasikan di berbagai lingkungan, termasuk situs AI, endpoint, email, aplikasi SaaS, dan lingkungan kustom. Melalui integrasi yang semakin mendalam dari DSPM dan DDR Getvisibility, organisasi akan mendapatkan: Visibilitas risiko proaktif dengan penemuan dan klasifikasi data sensitif secara terus‑menerus di seluruh SaaS, cloud, dan lingkungan on‑premises. Mitigasi ancaman real‑time melalui penerapan otomatis kebijakan keamanan di CASB, Web Security, dan Enterprise DLP. Kontrol keamanan adaptif yang memanfaatkan kecerdasan AI untuk melindungi data sensitif secara dinamis di berbagai platform AI (misalnya ChatGPT Enterprise, Copilot, Gemini) dan aplikasi perusahaan. Ronan Murphy, salah satu pendiri Getvisibility, menambahkan bahwa sejak awal misi perusahaan adalah membantu organisasi memahami risiko data karena “Kamu tidak bisa mengamankan apa yang tidak terlihat”. Mitigasi risiko real‑time adalah kunci untuk mencegah pelanggaran sebelum terjadi, dan dengan bergabungnya Getvisibility dengan Forcepoint, wawasan berbasis AI semakin diperluas untuk membantu pelanggan dan mitra mengidentifikasi risiko dan melindungi aset data penting dengan akurasi dan kecepatan yang tinggi. Dengan akuisisi ini, Forcepoint mendefinisikan ulang keamanan data di era AI, memungkinkan organisasi untuk mengamankan aset paling penting mereka, memastikan kepatuhan, dan tetap lebih unggul dari ancaman dunia maya modern. Detail lanjut terkait integrasi Getvisibility dalam portofolio Data Security Everywhere Forcepoint akan diumumkan setelah proses akuisisi selesai. Infrastruktur IT yang kuat adalah kunci produktivitas perusahaan. Dengan  Forcepoint indonesia, merupakan bagian dari PT. iLogo Infralogy Indonesia, yang merupakan mitra terpercaya dalam solusi Infrastruktur IT dan Cybersecurity terbaik di Indonesia. Hubungi kami sekarang atau kunjungi Forcepoint.ilogoindonesia.id untuk informasi lebih lanjut!

Read More
  • Previous
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • …
  • 15
  • Next

Recent Posts

  • Forcepoint Mengamankan Adopsi AI dan Data di Mana Saja dengan Asisten AI ARIA dan Endpoint Intelligence Baru
  • Tata Kelola Keamanan Data: Panduan Praktis
  • Forcepoint memperkuat keamanan data dengan AI terbaru (2026)
  • 8 Tren DSPM yang Menerangi Masa Depan Keamanan Data
  • F5 dan Forcepoint Bermitra untuk Mengamankan AI Enterprise dari Pembuatan Data hingga Operasi Runtime

Archives

  • May 2026
  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • September 2024
  • August 2024
  • July 2024

Categories

  • Blog
  • Uncategorized

Meta

  • Log in
  • Entries feed
  • Comments feed
  • WordPress.org

user_logo

I got lucky because I never gave up the search. Are you quitting too soon? Or, are you willing to pursue luck with a vengeance?

       

Popular Requests

Cloud DLP DSPM email email gateway forcepoint Forcepoint Data Security forcepoint indonesia forcepoint one NIS regulasi

Advertizing Spot

Forcepoint Indonesia adalah bagian dari PT. iLogo Infralogy Indonesia, yang bertindak sebagai partner resmi Forcepoint . Selain itu, kami juga berperan sebagai penyedia layanan (vendor) sekaligus distributor berbagai produk Infrastruktur IT dan Cybersecurity terbaik di Indonesia.

Kontak Kami

PT iLogo Indonesia

AKR Tower – 9th Floor
Jl. Panjang no. 5, Kebon Jeruk
Jakarta Barat 11530 – Indonesia

  • forcepoint@ilogoindonesia.id